Sunday, April 21, 2013

kesehatan mental wanita 4


Psikologi Perkembangan Remaja Pada Wanita
Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula orang dewasa. Pada periode ini pula remaja berubah secara kognitif dan mulai mampu berfikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa (Clarke-Sweart & Friedman, 1987; Ingersoll, 1989).
Selain perubahan yang terjadi dalam diri remaja, terdapat pula perubahan dalam lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru, teman sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Kondisi ini merupakan reaksi terhadap pertumbuhan remaja. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya. Adanya perubahan baik di dalam maupun di luar dirinya itu membuat kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut memperluas lingkungan sosial diluar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lainnya.
Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:(Konopka, 1973 dalam Pikunas, 1976; Ingersoll 1989):
Masa remaja awal (12-15 tahun).Pada masa ini individu memulai meninggalkan peran sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun). Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir yang baru. Masa remaja akhir (19-22 tahun). Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa.
Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam renteang kehidupan manusia yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Keunikan tersebut bersumber dari kedudukan masa remaja sebagai periode transisional antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Kita semua mengetahui bahwa antara anak-anak dan orang dewasa ada beberapa perbedaan yang selain bersifat bilogis atau fisiologis juga bersifat psikologis. Pada masa remaja perubahan-perubahan besar terjadi dalam kedua aspek tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa ciri umum yang menonjol pada masa remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam interaksinya dengan lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada prilaku remaja. Secara ringkas, proses perubahan tersebut dan interaksi antara beberapa aspek yang berubah selama masa remaja bisa diuraikan sebagai berikut. (Lerner & Hultsch, 1983; 318-320).
Perubahan fisik yaitu rangkaian perubahan yang paling jelas yang nampak dialami oleh remaja adalah perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada awal masa remaja, yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria (hurlock, 1973: 20-21).
Perubahan emosionalitas yaitu akibat langsung dari perubahan fisik dan hormonal adalah perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja sebagai akibat dari perubahan fisik dan hormonal tadi dan juga pengaruh lingkungan yang terkait dengan perubahan badaniah tersebut.
Perubahan kognitif yaitu semua perubahan fisik yang membawa implikasi perubahan emosional tersebut makin dirumitkan oleh fakta bahwa individu juga sedang mengalami perubahan kognitif. Perubahan dalam kemampuan berfikir ini diungkapkan oleh Piaget (1972) sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai tahap formal operation dalam perkembangan kognitifnya.
Implikasi Psikososial yaitu semua perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat itu membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya sendiri. Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya telah mengalami perubahan, dan komponen-komponen fisik, fisiologis, emosional, dan kognitif sedang mengalami perubahan besar.
Menurut John Hill (1983), terdapat tiga komponen dasar dalam membahas periode remaja yaitu: Perubahan pundamental remaja meliputi perubahan biologis kognitif dan sosial. Ketiga perubahan ini bersifat universal. Perubahan biologis menyangkut tampilan fisik (ciri-ciri secara primer dan sekunder).
Transisi Kognitif yaitu perubahan dalam kemampuan berfikir, remaja telah memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak dalam berfikir mengenai situasi secara hipotesis, memikirkan sesuatu yang belum terjadi tetapi akan terjadi.
Transisi Sosial yaitu perubahan dalam status sosial membuat remaja mendapatkan peran-peran baru dan terikat pada kegiatan-kegiatan baru.
Konteks dari remaja yaitu perubahan yang fundamental remaja bersifat universal, namun akibatnya pada individu sangat bervariasi (Bronfenbrenner, 1979). Hal ini terjadi karena dampak psikologis dari perubahan yang terjadi pada diri remaja dibentuk dari lingkungan.
Perkembangan Psikososial, terdapat 5 kasus dari psikososial yaitu:
ü  Identity yaitu mengemukakan dan mengerti dari sebagai individu.
Pada masa remaja terjadi perubahan yang sangat penting pada identitas diri (Harter, 1990). Pada masa remaja sangsi akan identitas dirinya dan tidak hanya sangsi akan personal sense dirinya tapi juga untuk pengakuan dari orang lain dan dari lingkungan bahwa dirinya merupakan indiviodu yang unik dan khusus.
ü  Autonomy yaitu menetapkan rasa yang nyaman dalam ketidaktergantungan.
Remaja berusaha membentuk dirinya menjadi tidak tergantung tetapi berusaha untuk menemukan dirinya dengan kaca mata dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini merupakan suatu proses yang sulit, tidak hanya bagi remaja tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya.
ü  Intimacy yaitu membentuk relasi yang tertutup dan dekat dengan orang lain.
Selama masa remaja perubahan penting lainnya adalah kemampuan individu untuk menjalin kedekatan dengan orang lain, khususnya dengan sebaya. Pertemuan muncul pertama kali pada masa remaja melibatkan keterbukaan, kejujuran, loyaliyas dan saling percaya, juda berbagi kegiatan dan minat (Sarin Williams and Bernet, 1990). “dating”, menjadi penting dan sebagai konsekuensinya kemampuan untuk menjalin hubungan melalui kepercayaan dan cinta.
ü  Sexuality yaitu mengekspresikan perasaan-perasaan dan merasa senang jika ada kontak fisik dengan orang lain. Kegiatan seksual secara umum dimulai pada masa remaja, kebutuhan untuk memecahkan masalah nilai-nilai sosial dan moral terjadi pada masa ini (Kart Chadorin, 1990).
Achivement yaitu mendapatkan keberhasilan dan memiliki kemampuan sebagai anggota masyarakat. Pengembalian keputusan yang penting terjadi pada masa remaja dan membawa konsueksi yang panjang tentang sekolah dn karir (Henderson and Dweck, 1990).
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Wanita
Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingkat kesehatan mental wanita yakni sebagai berikut:
A. Biologis
Para ahli telah banyak melakukan studi tentang hubungan antara dimensi biologis dengan kesehatan mental. Berbagai penelitian itu telah memberikan kesimpulan yang meyakinkan bahwa faktor biologis memberikan kontribusi sangat besar bagi kesehatan mental. Karena itu, kesehatan manusia, khususnya disini adalah kesehatan mental, tentunya tidak terlepaskan dari dimensi biologs ini. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang hubungan tersebut, khususnyabeberapa aspek biologis yang secara langsung berpengaruh terhadap kesehatan mental, diantaranya: otak, sistem endokrin, genetik, sensori, kondisi ibu selamakehamilain.
1.Otak
Otak sangat kompleks secara fisiologis, tetepi memiliki fungsi yang sangat esensi bagi keseluruhan aktivitas manusia. Diferensiasi dankeunikan yang ada pada manusia pada dasarnya tidak dapat dilepaskandari otak manusia. Keunikan manusia terjadi justru karena keunikan otak manusia dalam mengekspresikan seluruh pengalaman hidupnya. Jikadidipadukan dengan pandangan-pandangan psikologi, jelas adanyakesesuaian antara perkembangan fisiologis otak dengan perkembangan mental. Funsi otak seperti motorik, intelektual, emosional dan afeksiberhubungan dengan mentalitas manusia.
2.Sistem endokrin
Sistem endokrin terdiri dari sekumpulan kelenjar yang seringbekerja sama dengan sistem syaraf otonom. Sistem ini sama-samamemberikan fungsi yang penting yaitu berhubungan dengan berbagaibagian-bagian tubuh. Tetapi keduanya memiliki perbedaan diantaranyasistem syaraf menggunakan pesan kimia dan elektrik sedangkan sistemendokrin berhubungan dengan bahan kimia, yang disebut dengan hormon.Tiap kelenjar endokrin mengeluarkan hormon tertentu secaralangsung ke dalam aliran darah, yang membawa bahan-bahan kimia ini keseluruh bagian tubuh. Sistem endokrin berhubungan dengan kesehatanmental seseorang. Gangguan mental akibat sistem endokrin berdampak buruk pada mentalitas manusia. Sebagai contoh terganggunya kelenjaradrenalin berpengaruh terhadap kesehatan mental, yakni terganggunya“mood” dan perasannya dan tidak dapat melakukan
Coping stress.
3. Genetik
Faktor genetik diakui memiliki pengaruh yang besar terhadapmentalitas manusia. Kecenderungan psikosis yaitu schizophrenia danmanis-depresif merupakan sakit mental yang diwariskan secara genetisdari orangtuanya. Gangguan lainnya yang diperkirakan sebagai faktorgenetik adalah ketergantungan alkohol, obat-obatan, Alzeimer syndrome,phenylketunurine, dan huntington syndrome. Gangguan mental juga terjadi karena tidak normal dalam hal jumlah dan struktur kromosom. Jumlahkromosom yang berlebihan atau berkurang dapat menyebabkan individumengalami gangguan mental.
4. Sensori
Sensori merupakan aspek penting dari manusia. Sensori merupakanalat yang menagkap segenap stimuli dari luar. Sensori termasuk:pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecapan dan penciuman.Terganggunya fungsi sensori individu menyebabkan terganggunya fungsikognisi dan emosi individu. Seseorang yang mengalami gangguanpendenganran misalnya, maka akan berpengaruh terhadap perkembanganemosi sehingga cenderung menjadi orang yang paranoid, yakniterganggunya afeksi yang ditandai dengan kecurigaan yang berlebihankepada orang lain yang sebenarnya kecurigaan itu adalah salah.
5. Faktor ibu selama masa kehamilan
Faktor ibu selama masa kehamilan secara bermakna mempengaruhikesehatan mental anak. Selama berada dalam kandungan, kesehatan janinditentukan oleh kondisi ibu. Faktor-faktor ibu yang turut mempengaruhikesehatan mental anaknya adalah: usia, nutrisi, obat-obatan, radiasi,penyakit yang diderita, stress dan komplikasi.


B. Psikologis
Notosoedirjo dan latipun (2005), mengatakan bahwa aspek psikis manusiamerupakan satu kesatuan dengan dengan sistem biologis. Sebagai subsistem darieksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan dari aspek yang lain dalam kehidupan manusia.
1. Pengalaman Awal
Pengalaman awal merupakan segenap pengalaman-pengalamanyang terjadi pada individu terutama yang terjadi pada masa lalunya.Pengalaman awal ini dipandang sebagai bagian penting bahkan sangatmenentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.
2. Proses Pembelajaran
Perilaku manusia adalah sebagian besar adalah proses belajar, yaituhasil pelatihan dan pengalaman. Manusia belajar secara langsung sejak pada masa bayi terhadap lingkungannya. Karena itu faktor lingkungansangat menentukan mentalitas individu.
3. Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan mentalseseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi yaitu orangyang mengeksploitasi dan mewujudkan segenap kemampuan, bakat,keterampilannya sepenuhnya, akan mencapai pada tingkatan apa yangdisebut dengan tingkat pengalaman puncak (peack experience). Maslowmengatakan bahwa ketidakmampuan dalam mengenali dan memenuhikebutuhan-kebutuhannya adalah sebagai dasar dari gangguan mentalindividu. Keluarga yang lengkap dan fungsional serta mampumembentuk homeostatis akan dapat meningkatkan kesehatan mentalpara anggota keluaganya, dan kemungkinan dapat meningkatkanketahanan para anggota keluarganya dari gangguan-gangguan mentaldan ketidakstabilan emosional para anggotanya.
4. Perubahan sosial
Sehubungan dengan perubahan sosial ini, terdapat duakemungkinan yang dapat terjadi yaitu, perubahan sosial dapatmenimbulkan kepuasan bagi masyarakat karena sesuai dengan yangdiharapkan dan dapat meningkatkan keutuhan masyarakat dan hal inisekaligus meningkatkan kesehatan mental mereka. Namun, di sisi laindapat pula berakibat pada masyarakat mengalami kegagalan dalampenyesuaian terhadap perubahan itu, akibatnya merekamemanifestasikan kegagalan penyesuaian itu dalam bentuk yangpatologis, misalnya tidak terpenuhinya tuntutan politik, suatukelompok masyarakat melakukan tindakan pengrusakan danpenjarahan.

5.Sosial budaya
Sosial budaya memiliki makna yang sangat luas. Namun dalamkonteks ini budaya lebih dikhususkan pada aspek nilai, norma, danreligiusitas dan segenap aspeknya. Dalam konteks ini, kebudayaanyang ada di masyarakat selalu mengatur bagaimana orang seharusnya sesuatu, termasuk didalamnya bagaimana seseorang berperan sakit ,kalsifikasi kesakitan. serta adanya sejumlah kesakitan yang sangat spesifik ada pada budaya tertentu, termasuk pula adanya gangguan mentalnya.Kebudayaan pada prinsipnya memberikan aturan terhadap anggota masyarakatnya untuk bertindak yang seharusnya dilakukandan meninggalkan tindakan tertentu yang menurut budaya itu tidak seharunya dilakukan. Tindakan yang bertentangan dengan sistem nilaiatau budayanya akan dipandang sebagi penyimpangan, dan bahkan dapat menimbulkan gangguan mental. Hubungan kebudayaan dankesehatan mental meliputi tiga hal yaitu: (1) kebudayaan mendukungdan menghambat kesehatan mental, (2) kebudayaan memberi perantertentu terhadap penderita gangguan mental, (3) berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, (4) upaya peningkatan danpencegahan gangguan mental dalam telaah budaya.
6. Stessor 
Psikososial lainnyaSituasi dan kondisi peran sosial sehari-hari dapat menjadisebagai masalah atau sesuatu yang tidak dikehendaki, dan karena itudapat berfungsi sebagai stressor 
sosial kontribusi ini terhadapkesehatan mental bisa kuat atau lemah. Stressor psikososial secaraumum dapat menimbulkan efek negatif bagi individu yangmengalaminya. Manum demikian tentang variasi stressor  psikososial ini berbeda untuk setiap masyarakat, bergantung kepada kondisi sosialmasyarakatnya.

C. Lingkungan
Interaksi manusia dengan lingkungannya berhubungan dengan kesehatannya. Kondisi lingkungan yang sehat akan mendukung kesehatanmanusia itu sendiri, dan sebaliknya kondisi lingkungan yang tidak sehat dapat mengganggu kesehatannya termasuk dalam konteks kesehatan mentalnya.

4. Contoh Kasus Kesehatan Mental Wanita
Lesbian
Pada masa sekarang, kehidupan lesbianisme tidak disembunyikan. Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria.
Pada proses perkembangan remaja yang normal, biseksualitas dapat berkembang menjadi heteroseksual (menyukai lawan jenis). Sebaliknya jika prosesnya abnormal, misalnya disebabkan oleh faktor endogin atau eksogin tertentu, maka biseksualitas bisa berkembang menjadi lesbian, dan obyek-erotisnya adalah benar-benar seorang wanita. Pada umumnya, cinta seorang lesbianisme itu sangat mendalam dan lebih hebat dari pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian, tidak didapatkan kepuasan seksual yang wajar. Cinta lesbian juga biasanya lebih hebat daripada cinta homoseksual diantar kaum pria.
Gejala Lesbianisme antara lain disebabkan karena wanita yang bersangkutan mudah jenuh terhadap relasi heteroseksualnya, misalnya suami atau kekasih prianya. Seorang yang lesbian tidak pernah merasakan orgasme. Penyebab yang lain adalah pengalaman traumatis terhadap seorang pria atau suami yang kejam, sehingga timbul rasa benci yang mendalam dan antipati terhadap setiap laki-laki. Kemudian ia lebih suka melakukan relasi seks dan hidup bercinta dengan seseorang wanita lain. Wanita lesbian menganggap relasi heteroseksual tidak bisa membuat dirinya bahagia, relasi seksnya dengan sesama wanita dianggap sebagai kompensasi dari rasa ketidakbahagiaannya tersebut.

Kesehatan mental wanita 3


Menopause
Pengertian Menopause
Menopause adalah suatu tahap dalam kehidupan seorang wanita dimana periode menstruasinya berhenti secara permanen. Menopause merupakan proses alami bagi setiap perempuan. Biasanya perempuan mengalami menopause antara usia 48-55 tahun.
Penyebab utama dari menopause adalah perubahan hormon pada tubuh, perubahan ini berbeda-beda pada setiap  wanita. Oleh karena itu, ada beberapa wanita yang mengalami menopause pada usia yang tepat sementara wanita yang lain tidak.
Biasanya, pada waktu menopause yang normal atau yang terjadi lebih awal, tubuh wanita mengalami serangkaian perubahan hormonal dan wanita lebih berisiko terkena penyakit jantung, kanker payudara dan sebagainya. Dengan terlambat Menopause, tubuh seorang wanita mempertahankan kadar estrogen dan progesteron (hormon wanita) yang lebih tinggi dan yang mengurangi risiko terkena kanker payudara, kanker serviks dan penyakit jantung lainnya.

Hal-hal yang Menyebabkan Menopause
Ada dua hormon wanita utama yang memungkinkan setiap wanita mengalami masa menstruasi dan hamil, yaitu estrogen dan progesteron. Obesitas dianggap menjadi salah satu alasan penyebab terlambat menopause. Hasil dari sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki berat badan berlebih memiliki kecenderungan untuk mengalami terlambat menopause. Hal ini karena kelebihan berat badan dapat menggeser siklus hormonal dan memicu tubuh untuk memproduksi hormon lebih banyak. Dengan demikian, memungkinkan wanita untuk mempertahankan tingkat hormon estrogen dan progesteron yang tinggi, sehingga menopause menjadi terlambat.
Fibroid rahim adalah tumor(bukan kanker) jinak tidak yang paling umum terjadi pada wanita. Pertumbuhan fibroid ini tergantung pada kadar estrogen dan progesteron. Pertumbuhan fibroid rahim dapat dihambat karena tingginya tingkat hormon-hormon ini, maka tubuh kita terus memproduksi mereka untuk menghambat pertumbuhan tumor. Itulah sebabnya tingkat hormon menjadi tinggi dan menyebabkan menopause terlambat.

C. Menstruasi
Siklus haid secara ideal teratur setiap bulan dengan rentang waktu antara 21 sampai 35 hari setiap kali periode haid. Dengan siklus haid yang normal, secara fisiologis menggambarkan, organ reproduksi cenderung sehat dan tak bermasalah. Sistem hormonalnya baik, ditunjukkan dengan sel telur yang terus diproduksi dan siklus haidnya teratur. Intinya, secara kasat mata diyakini dalam kondisi sehat. Sehingga, dengan siklus normal ini, ibu akan lebih mudah mendapatkan kehamilan, menata rutinitas, menghitung masa subur, dan lainnya.
Pada kenyataannya, tak semua perempuan memiliki siklus haid yang normal. Banyak diantara mereka yang siklus haidnya tidak teratur, yakni siklusnya tidak memiliki pola tertentu. Mungkin pada awalnya siklus haid lebih dari 35 hari, namun kemudian akan timbul perdarahan haid di luar siklus haid normal. Misal, siklusnya semula 35-40 hari, tetapi bulan berikutnya bisa tidak haid selama 3 bulan. Di sisi lain, ada pula yang dalam sebulan bisa mengalami haid lebih dari sekali. Contoh, bulan ini haid terjadi tanggal 10, kemudian datang lagi pada tanggal 25 di bulan yang sama. Haid yang berlangsung kurang dari 21 hari dikategorikan siklus haid yang pendek.
Baik siklus pendek maupun panjang, sama-sama menunjukkan ketidaknormalan pada sistem metabolisme dan hormonal. Dampaknya pun sama, yaitu jadi lebih sulit hamil. Pada siklus pendek, mengalami “unovulasi” karena sel telur tidak terlalu matang sehingga sulit untuk dibuahi. Pada siklus panjang, hal ini menandakan sel telur jarang sekali diproduksi atau ibu mengalami ketidaksuburan yang cukup panjang. Jika sel telur jarang diproduksi berarti pembuahan akan sangat jarang terjadi. Padahal, haid merupakan tanda kalau ibu sedang subur.
Ketidakteraturan haid ini pun membuat ibu sulit mencari kapan masa subur dan tidak. Seharusnya, jika haid teratur, masa subur dapat ditemukan dengan mudah. Contoh, jika siklusnya 30 hari, maka masa subur diperkirakan 16 hari setelah hari pertama haid. Berbeda dengan siklus panjang dan pendek, sulit sekali menghitung masa subur karena tak ada rumus yang dapat digunakan.

Beberapa Penyebab terganggunya Siklus Haid
Banyak penyebab kenapa siklus haid menjadi panjang atau sebaliknya, pendek. Namun, penanganan kasus dengan siklus haid yang tidak normal, tak berdasarkan kepada panjang atau pendeknya sebuah siklus haid, melainkan berdasarkan kelainan yang dijumpai. Penanganan dilakukan oleh dokter berdasarkan penyebabnya.
ü  Fungsi Hormon Terganggu
Haid terkait erat dengan sistem hormon yang diatur di otak, tepatnya di kelenjar hipofisa. Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu, otomatis siklus haid pun akan terganggu.
ü  Kelainan Sistemik
Ada ibu yang tubuhnya sangat gemuk atau kurus. Hal ini bisa memengaruhi siklus haidnya karena sistem metabolisme di dalam tubuhnya tak bekerja dengan baik. Atau ibu menderita penyakit diabetes, juga akan memengaruhi sistem metabolisme ibu sehingga siklus haidnya pun tak teratur.
ü  Stres
Stres jangan dianggap enteng sebab akan mengganggu sistem metabolisme di dalam tubuh. Bisa saja karena stres, si ibu jadi mudah lelah, berat badan turun drastis, bahkan sakit-sakitan, sehingga metabolismenya terganggu. Bila metabolisme terganggu, siklus haid pun ikut terganggu.
ü  Kelenjar Gondok
Terganggunya fungsi kelenjar gondok/tiroid juga bisa menjadi penyebab tak teraturnya siklus haid. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu tinggi (hipertiroid) maupun terlalu rendah (hipotiroid). Pasalnya, sistem hormonal tubuh ikut terganggu.
ü  Hormon Prolaktin Berlebihan
Pada ibu menyusui, produksi hormon prolaktinnya cukup tinggi. Hormon prolaktin ini sering kali membuat ibu tak kunjung haid karena memang hormon ini menekan tingkat kesuburan ibu. Pada kasus ini tak masalah, justru sangat baik untuk memberikan kesempatan pada ibu guna memelihara organ reproduksinya. Sebaliknya, jika tidak sedang menyusui, hormon prolaktin juga bisa tinggi, biasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala.

kesehatan mental wanita 2


 Depresi Pasca Kelahiran (Post Partum Blues)
1.1    Pengertian Post Partum Blues
Post Partum Blues (PBB) sering juga disebut sebagai maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan.
1.2    Penyebab Post Partum Blues
Dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan, tetapi bila tidak ditatalaksanai dengan baik dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis salin yang mempunyai dampak lebih buruk terutama dalam hubungan perkawinan dengan  suami dan perkembangan anknya.

1.3   Gejala Post Partum Blues
Gejala-gejala yang terjadi: reaksi depresi/sedih/disforia, menagis, mudah tersinggun atau iritabilitas, cemas, labil perasaan, cendrung menyalahkan diri sendiri,gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.

1.4    Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan
Banyak factor yang dianggap mendukung pada sindroma ini:
1. Faktor hormonal yang terlalu rendah
2. Faktor demografik yaitu umur dan parietas
3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan
4. Latar belakan psikososial yang bersangkutan

Cara mengatasinya adalah dengan mempersiapkan persalinan dengan lebih baik, maksudnya disini tidak hanya menekankan pada materi tapi yang lebih penting dari segi psikologi dan mental ibu.
4.2    Depresi Post Partum
4.2.1   Pengertian Depresi Post Partum
Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari, dapat terjadi kapanpun bahkan sampai 1 tahun kedepan.

Pitt tahun 1988 dalam Pitt(regina dkk,2001) depresi post parum  adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan dan kehilangan libido(kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami).
Llewelly-jones (1994) menyatakan wanita yang didiagnosa mengalami depresi 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita tersebut secara social dan emosional meras terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi post partum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus-menerus sampai 6 bulan atau bahkan sampai satu tahun.

4.2.2   Penyebab Depresi Post Partum
Disebabkan karena gangguan hormonal. Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesterone.

Pitt(regina dkk,2001) mengemukakan 4 faktor penyebab depresi post partum:
1. factor konstitusional
2. factor fisik yang etrjadi karena ketidakseimbangan hormonal
3. factor psikologi
4. factor social dan karateristik ibu

4.2.3   Gejala Depresi Post Partum
Gejala yang menonjol dalam depresi post partum adalah trias depresi yaitu:
1. berkurangnya energi
2. penurunan efek
3. hilang minat (anhedonia)

Ling dan Duff(2001) mengatakan bahwa gejala depresi post partum yang dialami 60% wanita mempunyai karateristik dan spesifik antara lain:
1. trauma terhadap intervensi medis yang terjadi
2. kelelahan dan perubahan mood
3. gangguan nafsu makan dan gangguan tidur
4. tidak mau berhubungan dengan orang lain
5. tidak mencintai bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.


4.2.4   Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan
Monks dkk (1988) mengatakan depresi post partum merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas efek, kecemasan dan depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan-bulan.

Faktor resiko:
1. keadaan hormonal
2. dukungan sosial
3. emotional relationship
4. komunikasi dan kedekatan
5. struktur keluarga
6. antropologi
7. perkawinan
8. demografi
9. stressor psikososial dan lingkungan

Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid, progesteron dan estrogen.

Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat  sedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk:
1. beristirahat dengan baik
2. berolahraga yang ringan
3. berbagi cerita dengan orang lain
4. bersikap fleksible
5. bergabung dengan orang-oarang baru
6. sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis


4.3 Post Partum Psikosa
4.3.1   Pengertian Post Partum Psikosa
Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.

4.3.2   Penyebab Post Partum Psikosa
Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa.

4.3.3   Gejala Post Partum Psikosa
Gejala yang sering terjadi adalah:
1. delusi
2. halusinasi
3. gangguan saat tidur
4. obsesi mengenai bayi

4.3.4   Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan
Pada wanita yang menderita penyakit ini dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu singkat. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dada, jantung berdebar-berdebar serta nafas terasa cepat.
Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondisi dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.
Saran kepada penderita untuk:
1. beristirahat cukup
2. mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang
3. bergabung dengan orang-orang yang baru
4. bersikap fleksible
5. berbagi cerita dengan orang terdekat
6.sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

Kesehatan Mental Wanita 1



Kesehatan mental ialah kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai kemampuannya, baik tuntutan dalam diri sendiri maupun luar dirinya sendiri, seperti menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah, sekolah, lingkungan kerja dan masyarakat serta teman sebaya.
Ada pengakuan yang luas bahwa kita perlu lebih memahami faktor-faktor penentu kesehatan mental perempuan di Kanada. Untuk melakukan ini, valid dan reliabel sensitif gender penanda kesehatan mental diperlukan untuk memantau dan melacak efektivitas intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan penyakit untuk seluruh Kanada. Misi proyek kami adalah untuk berkomunikasi dengan jelas tiga poin kunci 1. bahwa seks perbedaan dalam kesehatan mental perlu dikurangi, 2. bahwa tingkat absolut dari penyakit mental bagi pria dan wanita perlu dikurangi, dan 3. marabahaya yang mungkin menjadi pemicu sakit, karena itu pendekatan pencegahan terhadap tekanan perlu diterapkan untuk mengurangi penyakit mental.
Temuan kami dibagi menjadi empat bagian. Bagian 1 dokumen pendekatan preventif untuk penyakit mental dengan mengatasi faktor penentu sosial kunci. Bagian 2 secara kritis membandingkan dan kontras tiga indikator kesehatan mental yang dapat digunakan untuk mengukur status kesehatan mental pria dan wanita dewasa di Kanada sebagai respons terhadap program dan kebijakan yang dijelaskan di Bagian 1. Bagian 3 membawa ke depan dasar pemikiran dan pentingnya pertimbangan gender tertentu penting untuk perencanaan dan menilai inisiatif kesehatan mental. Bagian 4 menggarisbawahi pentingnya kualitas data dalam informasi kesehatan mental, khususnya untuk sub kelompok Kanada rentan atau kurang terwakili yang mengalami penyakit mental.
Bagian 1: Dengan menggunakan data dari 15.889 pria dan 19.347 wanita berusia 18 tahun dan lebih yang berpartisipasi dalam Survei Kesehatan Masyarakat 2002 Kanada pada kesehatan Mental dan Kesejahteraan (CCHS siklus 1,2), analisis kami menunjukkan bahwa tingkat lebih tinggi dari marabahaya berhubungan dengan memadai dukungan sosial, tingkat pendapatan rendah, pengangguran, aktivitas fisik, tingkat pendidikan rendah dan menjadi orang tua tunggal. Kecuali pengangguran, semua faktor penentu memiliki dampak lebih besar pada tekanan pada wanita daripada pria.
Untuk meringankan penderitaan dan penyakit mental berikutnya, kebijakan dan program perlu mengurangi penyebab akar ini dari tekanan mental. Misalnya, untuk meningkatkan perumahan dukungan sosial dan program penjangkauan masyarakat diperlukan, terutama untuk wanita yang lebih tua janda dan orang miskin. Untuk mengurangi jurang upah gender, peningkatan bantuan pendapatan dan biarkan selama perawatan memberi pekerja dan pekerja miskin yang diperlukan. Investasi dalam program-program berkualitas tinggi perawatan anak akan meredakan stres pada orang tua yang bekerja dan ibu tunggal dan ayah. Strategi lain untuk mengurangi tekanan termasuk kesempatan kerja paruh waktu untuk bekerja dan orang tua tunggal dan mendorong terjangkau dan dapat diakses program kegiatan fisik di lingkungan yang aman bagi perempuan dan laki-laki.
Bagian 2: Pada waktu saat ini, tidak ada indikator kesehatan yang memadai digunakan untuk memonitor dan melacak kesehatan mental bagi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Kami menyajikan data validitas baru pada tiga indikator kesehatan potensi mental: penggunaan narkoba psikotropika, tagihan dokter untuk kunjungan kesehatan mental, dan gejala yang dilaporkan sendiri (bukan hanya diagnosis penyakit mental). Tahunan yang dilaporkan sendiri tingkat penggunaan obat psikotropika adalah 8% bagi perempuan dibandingkan dengan 4% untuk pria, namun, obat ini sering diresepkan untuk kondisi selain gejala kesehatan mental. Proporsi klaim tahunan yang dibuat oleh dokter untuk kunjungan kesehatan mental adalah 25% untuk perempuan dan 18% untuk pria. Angka-angka ini meremehkan penyakit mental karena hanya 87% wanita dewasa dan 75% pria dewasa mengakses dokter per tahun dan perlu disesuaikan. Dua puluh persen wanita dan 14% pria mengaku merasa tertekan atau cemas. Namun, pertanyaan yang diajukan dalam survei ini tidak memperhitungkan interpretasi akun budaya, dan banyak orang enggan untuk mengungkapkan gejala mereka. Kami menyimpulkan bahwa setiap indikator memberikan kontribusi informasi berharga mengenai kesehatan mental tetapi kekurangan dalam beberapa cara. Diskusi awal dengan Statistik Kanada menyatakan preferensi untuk indikator dokter pelaporan diagnostik (yang menunjukkan prevalensi penduduk 20% disesuaikan gejala kesehatan mental untuk perempuan dan 14% untuk pria). Elektronik yang diusulkan kesehatan rekam medis di Kanada akan sangat memudahkan penggunaan indikator ini dan menghilangkan beberapa mereka pendek kedatangan.
Anggota Dewan Penasehat mempertanyakan apakah itu realistis untuk mencoba mengidentifikasi indikator standar emas untuk penyakit mental. Mengingat kompleksitas isu, mereka menyarankan bahwa indikator dikombinasikan. Jika digunakan bersama-sama, mereka akan memberikan gambaran yang lebih kuat dari kesehatan mental.
Bagian 3: berbasis gender strategi Analisis kami menunjukkan perbedaan dalam ekspresi penderitaan, pengobatan pola untuk gejala kesehatan mental, dan kesehatan mencari pria dan wanita. Perbedaan gender dalam kesulitan diterjemahkan ke dalam perbedaan yang sama pada gangguan kesehatan mental, dengan 11% wanita dibanding laki-laki 10% mengalami sedikitnya satu gangguan kesehatan mental selama periode 1-tahun. Secara absolut, ini adalah perbedaan yang relatif kecil. Namun, perbedaan penting ada dalam spektrum masalah kesehatan mental menurut jenis kelamin. Perempuan lebih mungkin untuk menderita gangguan depresi dan kecemasan, sedangkan pria lebih mungkin untuk penyalahgunaan zat terlarang, berjudi dan terlibat dalam kegiatan kriminal. Dalam Siklus Kesehatan Masyarakat Kanada Survei 1,2 10% perempuan melaporkan kecemasan dan gangguan depresi dibandingkan dengan 6% pria. Hanya 1% wanita melaporkan penyalahgunaan zat (alkohol dan penggunaan obat), dibandingkan dengan 4% dari pria.
Dalam semua kelompok usia, wanita dilaporkan lebih tinggi tingkat kesulitan daripada pria. Tingkat tertinggi dari marabahaya yang dicatat dalam kelompok usia muda namun kesenjangan gender yang paling signifikan pada orang dewasa yang lebih tua. Alasan untuk perbedaan antara orang dewasa yang lebih tua memerlukan penyelidikan lebih lanjut, tetapi mencakup masalah janda, isolasi sosial, tingginya tingkat cacat, dan prevalensi yang lebih tinggi dikompromikan status sosial-ekonomi di kalangan wanita yang lebih tua.
Cara-cara pria dan wanita menghadapi kesulitan tampak berbeda. Wanita lebih mungkin dibandingkan pria untuk mencari bantuan dari perawatan kesehatan profesional dan menerima - atau menjadi resep - pengobatan farmakologi untuk gejala mereka. Bahkan, perempuan dua kali lebih banyak daripada pria (12% vs 6%) dalam Siklus Kesehatan Masyarakat Kanada Survey melaporkan 1,2 konsultasi penyedia layanan kesehatan pada tahun lalu untuk masalah emosional. Perempuan juga dua kali lebih mungkin sebagai laki-laki melaporkan minum obat psikotropika (18% vs 10% dari mereka melaporkan tingkat tertinggi distress).
Jika ada kesetaraan dalam pemberian obat-obatan psikotropika untuk pria dan wanita, maka pola marabahaya harus menjelaskan perbedaan gender dalam pola resep. Ini tidak tampaknya kasus ini, dan tidak jelas apakah perbedaan ini mencerminkan perawatan yang tidak tepat. Perbedaan mungkin mencerminkan bias positif dalam mendukung mengobati tekanan mental perempuan, atau situasi negatif dengan lebih-resep yang merugikan kesehatan perempuan. Promosi obat psikotropika langsung ke dokter dan juga ke konsumen melalui direct-to-consumer iklan mungkin mendistorsi peran dokter-pasien dan menyebabkan perawatan medis yang tidak perlu untuk peristiwa kehidupan normal.
Hal ini juga diakui bahwa penggunaan psikotropika bukan tanpa risiko, terutama pada wanita lanjut usia. Efek pada memori, masalah jantung, dan peningkatan risiko jatuh, patah tulang pinggul, dan kecelakaan kendaraan bermotor, hanyalah beberapa dari efek samping yang berbahaya dari obat-obat ini. Interaksi obat yang merugikan sangat umum dengan kelas-kelas obat, dan dapat menyebabkan rawat inap sengaja.
Mengingat rasio risiko-manfaat yang tidak diketahui dan pemanfaatan tidak tepat mungkin obat psikotropika, kita kembali menekankan pendekatan kesehatan preventif / publik yang menargetkan akar penyebab kecemasan perempuan dan depresi. Kebijakan sosial penting harus difokuskan pada pengurangan berkorelasi diketahui kecemasan dan depresi seperti isolasi sosial dan marjinalisasi, ketidakadilan gender pendapatan, tanggung jawab pengasuhan, kurangnya aktivitas fisik, dan kesempatan kerja. Investasi non-farmakologis pengobatan depresi dan kecemasan dianjurkan, seperti peningkatan ketersediaan kelompok dan layanan konseling individual dan psikoterapi. Selain itu, legislator kami harus menegakkan larangan saat ini dari semua industri yang disponsori iklan obat resep untuk umum, dan harus memastikan penyediaan independen, informasi yang tidak bias dan publik dibiayai pada obat resep bagi warga Kanada.
Bagian 4: Rekomendasi untuk meningkatkan data informasi kesehatan mental dan kualitas termasuk negosiasi dengan Statistik Kanada untuk 1) meningkatkan ukuran sampel untuk populasi minoritas dan imigran di masa survei kesehatan mental, 2) merevisi kuesioner untuk memasukkan faktor-faktor penentu yang lebih luas dari kesehatan mental dan lebih komprehensif , divalidasi ukuran kesusahan, gejala kesehatan mental dan gangguan, dan 3) membuat lebih transparan alasan mengapa pertanyaan-pertanyaan tertentu yang dipilih untuk survei. Lebih baik teknologi informasi di Kanada diperlukan. Anggota Dewan Penasehat juga menekankan pentingnya keterkaitan data antar sumber data provinsi dan federal. Longitudinal menindaklanjuti akan memastikan kemampuan untuk mengevaluasi dampak kebijakan tentang langkah-langkah tertentu dari kesehatan mental. Dewan Penasehat, sementara sensitif terhadap masalah privasi, juga merasa bahwa Statistik Kanada dan departemen pemerintah lainnya yang memiliki data kesehatan harus memungkinkan akses lebih besar ke data oleh peneliti kesehatan yang berkualitas seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Inggris, ini memiliki potensi untuk meningkatkan kesehatan dari Kanada.
Sebuah rencana transfer pengetahuan di tempat untuk membuat jembatan dengan Komisi Kesehatan Mental Kanada, stakeholder pemerintah terkait, Statistik Kanada, para peneliti kesehatan mental, pendukung kesehatan mental, profesional kesehatan dan konsumen untuk diseminasi dari temuan dan rekomendasi.
1.      Gejala Gangguan Kesehatan Mental Pada Wanita
2.      Putus cinta, terkena PHK, tidak lolos seleksi masuk kerja, atau baru melahirkan dapat memicu depresi bila wanita tidak mampu mengelola kesedihan yang dialami. Depresi, selain membuat suasana hati terpuruk, juga bisa menimbulkan pikiran untuk melakukan aktivitas fatal yang merugikan diri sendiri.
Wanita harus lebih waspada pada gangguan psikologis ini, sebab lebih rentan mengalaminya dibandingkan pria. Kaum hawa lebih berisiko karena faktor hormonal serta perbedaan karakteristik dengan kaum pria, walau kriteria depresi pada prinsipnya sama untuk semua jenis kelamin, dikutip dari laman Litbangdepkes.go.id.

Kaum hawa lebih mudah merasakan perasaan bersalah, cemas, penurunan nafsu makan, gangguan tidur, serta gangguan makan. Kemungkinan wanita mengalami depresi satu setengah kali sampai dua kali lebih tinggi dibandingkan pria.

Percaya atau tidak, di Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari laman Modernmom, sekitar 12 juta wanita setiap tahun tercatat mengalami depresi, jumlah ini hampir dua kali lipat dibandingkan pria yang menderitanya.

Keadaan depresi dapat melemahkan dan mempengaruhi hubungan antara sesama, pekerjaan, kesehatan, bahkan keluarga. Level keadaan psikologis ini bisa ringan sampai kronis atau yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Fakta
Depresi yang terjadi pada wanita terbukti telah menyebabkan banyak faktor risiko. Penyebab timbulnya keadaan ini, khususnya wanita, antara lain stres, keturunan, fluktuasi hormon, kimia otak, penyakit, bahkan sampai kekurangan gizi. Selain itu, masih banyak lagi faktor yang memicunya.

Jenis
Satu dari delapan wanita - di beberapa titik dalam kehidupan mereka - akan mengalami depresi klinis. Depresi dapat mengambil bentuk berbeda-beda. Misalnya depresi berat, depresi atipikal, dysthymia, dan depresi postpartum.

Ada beberapa gangguan lainnya yang menyebabkan keadaan psikologis pada wanita, termasuk gangguan dysphoric premenstrual, gangguan bipolar, gangguan afektif musiman dan gangguan penyesuaian. Mendiagnosis jenis depresi seorang wanita akan membantu bagaimana membuat perencanaan pengobatan yang efektif.

Tanda dan gejala
Ada sejumlah tanda dan gejala bila seorang wanita mengalami depresi klinis. Perubahan nafsu makan, tidak bersemangat, dan pola tidur yang buruk dapat menunjukkan adanya gejala depresi.

Lekas marah, kurang konsentrasi, menarik diri dari kelompok, menyimpan perasaan benci, dan punya pikiran bunuh diri, juga merupakan tanda depresi. Beberapa wanita bahkan sampai merasa tidak berharga, kehilangan harapan, dan penurunan libido.

Seorang wanita yang merasakan tanda dan gejala semacam itu harus menyampaikan secara rinci kepada orang terdekat atau psikolog agar mereka dapat membuat pertimbangan pilihan pengobatan.

Pengobatan alami
Untuk kasus depresi ringan hingga sedang, sebenarnya Anda dapat menanganinya seorang diri secara alami. Cobalah mengubah gaya hidup Anda. Perubahan gaya hidup biasanya dapat membantu mengurangi stres dan depresi. Misalnya, lakukan olahraga, meditasi, perubahan pola makan, dan konsumsi suplemen.

Peringatan
Bila Anda telah menggunakan suplemen atau herbal untuk menangani depresi, sebaiknya Anda menginformasikannya kepada penyedia layanan kesehatan, bila suatu saat pergi ke ahli kesehatan.

Sebab, beberapa herbal dan suplemen dapat mengganggu atau mempengaruhi pemberian resep obat dari penyedia layanan kesehatan.

Untuk depresi berat, ini membutuhkan perawatan medis. Peratawan ini penting dilakukan untuk membantu sekaligus mencegah agar depresi tidak kambuh. (pet)

Wednesday, April 10, 2013


ATAXIA

A.    Pengertian

Spinocerebellar Degeneration atau biasa di sebut Ataxia (mungkin banyak yang mengira merupakan dua penyakit yang berbeda, namun ini adalah satu penyakit, hanya saja berbeda nama) adalah penyakit yang menyerang otak kecil dan tulang belakang dan menyebabkan gangguan pada syaraf motorik.

Penderita akan kehilangan kendali terhadap syaraf-syaraf motoriknya secara bertahap dan makin lama kondisi fisiknya akan makin parah. Awalnya mungkin penderita hanya akan merasa longtai saat berjalan, lalu penderita akan sering terjatuh, tidak bisa menggapai barang dalam jarak dekat, penderita ingin bergerak tapi tidak bisa bergerak, penderita ingin bicara tapi tidak bisa bicara, tapi penderita tidak kehilangan kecerdasannya dan tetap mengerti akan keadaannya.

Banyak orang yang mengira, kalau penyakit ini disebabkan oleh virus, tapi yang benar ada dua hal: bisa karena keturunan, atau mutasi gen, dan beberapa penyebab lain. Yang pasti, penyakit Spinocerebellar Ataxia tidak disebabkan oleh virus. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja (tidak pandang bulu), sehingga orang yang mengalami penyakit ini awalnya tidak tahu penyakit apa yang dialaminya.

 

B.     Penyebab

Banyak ataxia disebabkan oleh hilangnya fungsi otak , otak kecil, yang mana berfungsi sebagai pusat koordinasi. Bagian kanan dari otak kecil mengkontrol koordinasi bagian kanan tubuh sedangkan bagian kiri mengkontrol koordinasi bagian kiri. Bagian tengah otak kecil mengkontrol pergerakan kompleks dari berjalan, kepala dan trunk stability, dan pergerakan mata. Bagian lain dari otak kecil membantu untuk mengkoordinasi pergerakan mata, vocal berbicara, dan menelan.

Ataxia juga dapat disebabkan oleh tidak berfungsinya jalan masuk dan keluar dari otak kecil. Informasi masuk ke otak kecil dari saraf spinal dan bagian lain dari otak dan sinyal-sinyal dari otak kecil keluar ke saraf spinal lalu ke otak. Walaupun Otak kecil tidak secara langsung mengkontrol kekuatan, (fungsi motorik) atau perasaan, sensor motorik harus bekerja secara normal untuk menghasilkan masukan yang benar ke otak kecil. Seorang yang mengalami kerusakan koordinasi dapat dikatakan orang tersebut terkena ataxia.

 



C.    Gejala

Gejala dan waktu onset tergantung dari tipe ataksia. Bahkan terdapat banyak variasi dalam keluarga yang sama dengan tipe ataksia yang sama. Kelainan resesif umumnya menyebabkan gejala yang dimulai sejak masa kanak-kanak dibandingkan dewasa.'' Bagaimanapun, dalam tahun-tahun terakhir, sejak tes genetik tersedia, diketahui ataksia Friedreich mulai terjadi saat dewasa pada beberapa kasus. Ataksia dominan sering muncul pada umur 20 tahun sampai 30 tahun atau bahkan lebih tua lagi. Kadang individu dapat tidak menunjukkan gejala sampai  usia 60 tahun.'' Biasanya keseimbangan dan koordinasi yang dipengaruhi pertama kali. Tidak adanya koordinasi tangan, lengan dan kaki dan kemampuan berbicara adalah gejala umum lainnya. Berjalan menjadi semakin   sulit dan ditandai oleh berjalan   dengan menempatkan kaki semakin jauh untuk mengimbangi keseimbangan yang buruk. Gangguan koordinasi lengan dan tangan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan kontrol gerak yang baik seperti menulis dan memakan. Gerakan mata yang lambat dapat dilihat pada beberapa bentuk ataksia.'' Seiring berjalannya waktu, ataksia dapat mempengaruhi kemampuan berbicara & menelan.

Ataksia yang diwariskan merupakan kelainan degeneratif yang berkembang selama beberapa tahun. Seberapa parah dan kemungkinan berujung pada kematian tergantung tipe ataksia, usia dimulainya gejala dan faktor lain hanya sedikit dipahami saat ini. Komplikasi saluran pernapasan dapat menjadi fatal pada orang yang ?bed bound? atau memiliki masalah menelan yang parah.

 

·         Diagnosa Ataxia 1

Diagnosa ataksia Friedreich dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis termasuk riwayat medis dan melalui pemeriksaan fisik. Tes yang dilakukan meliputi: Elektromiogram (EMG), yang mengukur aktivitas elektrik sel-sel otot.
Studi pengantaran saraf, yang mengukur kecepatan saraf meneruskan rangsangan.
Elektrokardiogram (EKG), yang memberikan hasil grafik aktivitas elektrik atau pola denyut jantung
Ekokardiogram, yang merekam posisi dan gerakan otot jantung.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan computed tomography (CT) scan, yang menyediakan gambar otak dan urat saraf tulang belakang.
Ketukan tulang belakang (spinal tap) untuk mengevaluasi cairan serebrospinal. Tes darah dan urin untuk mengetahui naiknya kadar glukosa. Tes genetik untuk mengidentifikasi gen yang dipengaruhi.

·         Diagnosa Ataxia 2

Diagnosa didasarkan pada sejarah kesehatan seseorang, sejarah keluarga, dan sebuah uji sistem saraf. Tes darah dan sinar x, termasuk scan MRI otak dapat menunjukkan yang mana otak kecil atau bagian-bagian otak atau sistem saraf lah yang sudah diinfeksi oleh stroke, tumor, atau kemunduran saraf yang dapat menyebabkan ataxia.
Tes genetik disediakan untuk bermacam-macam penyakit ataxia, walaupun beberapa dokter merasa lebih tepat jika seorang pasien memeriksakan diri ke spesialis genetik atau specialis ataxia sebelum mejalani sebuah tes gen. Diagnosa apakah seseorang terjangkit penyakit ini atau tidak dapat dibantu keakuratannya dengan berbagai informasi sejarah kesehatan keluarga serta gejala-gejala ataxia yang dialami si pasien.

 

Beikut ini adalah daftar kondisi kesehatan dan saraf (penyakit) yang dapat menyebabkan ataxia muncul secara tiba-tiba:

1).    Stroke

2).    Pendarahan otak

3).    Tumor otak

4).    Stuktur yang rusak-otak kecil tidak dibentuk secara layak selama pembentukkan sebelum lahir

5).    Penggunaan narkoba dan alkohol (minumnan keras beralkohol)

6).    Defisiensi vitamin (vitamin E, vitamin B12)

 

Masalah orthopedi seperti deformitis kaki dan skoliosis dapat diatasi dengan alat penguat atau operasi. Terapi fisik dapat memperlama penggunaan lengan dan kaki. Peneliti berharap kemajuan dalam memahami genetik ataksia Friedriech dapat menjadi pemecahan dalam pengobatan.

 




D.    Pengobatan

Seiring  dengan banyaknya penyakit degeneratif pada   sistem saraf, tidak ada obat atau pengobatan yang efektif untuk Ataksia Friedriech. Bagaimana pun, banyak gejala dan komplikasi yang dapat diobati untuk membantu pasien  mempertahankan fungsi optimal   selama mungkin. Diabetes, jika ada dapat diobati dengan diet dan obat seperti insulin dan beberapa     penyakit jantung juga dapat diobati dengan obat.

Perawatan kesehatan bagi penderita Ataxia tidak ada obat khusus yang     dapat menyembuhkan ataxia atau gejala-gejala dari ataxia. Sekarang ini tujuan dari penyembuhan ataxia adalah untuk memperbaiki    kulitas hidup, diharapkan pula dengan berjalannya waktu dapat ditemukan obat yang   dapat menyembuhkan dari siptom ataxia. Agar penderita ataxia dapat sebisa mungkin melakukan pekerjaan sehari-hari "jalan, makan, kominikasi, dll.", maka diberikan peralatan-peralatan yang dapat memudahkan mereka. Contohnya seperti kursi roda, tongkat, tongkat penyokong tubuh, dan lain-lain. Jika penderita ataxia juga mengalami stroke, kekurangan vitamin, keracunan obat-obatan dan alkohol, maka perawatan yang diberikan termasuk perawatan khusus untuk hal-hal tersebut.

Banyak pasien baik yang ataxia karena faktor keturunan atau sporadic mengalami berbagai gejala termasuk depresi, kejang-kejang, sulit tidur, gemetaran, dan badan kaku.

footer