ATAXIA
A. Pengertian
Spinocerebellar
Degeneration atau biasa di sebut Ataxia (mungkin banyak yang mengira merupakan
dua penyakit yang berbeda, namun ini adalah satu penyakit, hanya saja berbeda
nama) adalah penyakit yang menyerang otak kecil dan tulang belakang dan
menyebabkan gangguan pada syaraf motorik.
Penderita
akan kehilangan kendali terhadap syaraf-syaraf motoriknya secara bertahap dan
makin lama kondisi fisiknya akan makin parah. Awalnya mungkin penderita hanya
akan merasa longtai saat berjalan, lalu penderita akan sering terjatuh, tidak
bisa menggapai barang dalam jarak dekat, penderita ingin bergerak tapi tidak
bisa bergerak, penderita ingin bicara tapi tidak bisa bicara, tapi penderita
tidak kehilangan kecerdasannya dan tetap mengerti akan keadaannya.
Banyak
orang yang mengira, kalau penyakit ini disebabkan oleh virus, tapi yang benar
ada dua hal: bisa karena keturunan, atau mutasi gen, dan beberapa penyebab
lain. Yang pasti, penyakit Spinocerebellar Ataxia tidak disebabkan oleh virus.
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja (tidak pandang bulu), sehingga orang
yang mengalami penyakit ini awalnya tidak tahu penyakit apa yang dialaminya.
B. Penyebab
Banyak ataxia disebabkan oleh hilangnya fungsi otak ,
otak kecil, yang mana
berfungsi sebagai pusat koordinasi. Bagian kanan dari otak kecil mengkontrol
koordinasi bagian kanan tubuh sedangkan bagian kiri mengkontrol koordinasi
bagian kiri. Bagian tengah otak kecil mengkontrol pergerakan kompleks dari
berjalan, kepala dan trunk stability, dan pergerakan mata. Bagian lain dari
otak kecil membantu untuk mengkoordinasi pergerakan mata, vocal berbicara, dan
menelan.
Ataxia juga dapat disebabkan oleh tidak berfungsinya
jalan masuk dan keluar dari otak kecil. Informasi masuk ke otak kecil dari
saraf spinal dan bagian lain dari otak dan sinyal-sinyal dari otak kecil keluar
ke saraf spinal lalu ke otak. Walaupun Otak kecil tidak secara langsung
mengkontrol kekuatan, (fungsi motorik) atau perasaan, sensor motorik harus
bekerja secara normal untuk menghasilkan masukan yang benar ke otak kecil.
Seorang yang mengalami kerusakan koordinasi dapat dikatakan orang tersebut
terkena ataxia.
C. Gejala
Gejala dan waktu onset tergantung dari tipe ataksia.
Bahkan terdapat banyak variasi dalam keluarga yang sama dengan tipe ataksia
yang sama. Kelainan resesif umumnya menyebabkan gejala yang dimulai sejak masa
kanak-kanak dibandingkan dewasa.'' Bagaimanapun, dalam tahun-tahun terakhir,
sejak tes genetik tersedia, diketahui ataksia Friedreich mulai terjadi saat
dewasa pada beberapa kasus. Ataksia dominan sering muncul pada umur 20 tahun
sampai 30 tahun atau bahkan lebih tua lagi. Kadang individu dapat tidak
menunjukkan gejala sampai usia 60 tahun.'' Biasanya keseimbangan dan
koordinasi yang dipengaruhi pertama kali. Tidak adanya koordinasi tangan,
lengan dan kaki dan kemampuan berbicara adalah gejala umum lainnya. Berjalan
menjadi semakin sulit dan ditandai oleh berjalan dengan
menempatkan kaki semakin jauh untuk mengimbangi keseimbangan yang buruk.
Gangguan koordinasi lengan dan tangan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
melakukan kontrol gerak yang baik seperti menulis dan memakan. Gerakan mata
yang lambat dapat dilihat pada beberapa bentuk ataksia.'' Seiring berjalannya
waktu, ataksia dapat mempengaruhi kemampuan berbicara & menelan.
Ataksia yang diwariskan merupakan kelainan degeneratif
yang berkembang selama beberapa tahun. Seberapa parah dan kemungkinan berujung
pada kematian tergantung tipe ataksia, usia dimulainya gejala dan faktor lain
hanya sedikit dipahami saat ini. Komplikasi saluran pernapasan dapat menjadi
fatal pada orang yang ?bed bound? atau memiliki masalah menelan yang parah.
·
Diagnosa Ataxia 1
Diagnosa ataksia
Friedreich dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis termasuk riwayat medis dan
melalui pemeriksaan fisik. Tes yang dilakukan meliputi: Elektromiogram
(EMG), yang mengukur aktivitas elektrik sel-sel otot.
Studi pengantaran saraf, yang mengukur kecepatan saraf meneruskan rangsangan.
Elektrokardiogram (EKG), yang memberikan hasil grafik aktivitas elektrik atau pola denyut jantung Ekokardiogram, yang merekam posisi dan gerakan otot jantung.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan computed tomography (CT) scan, yang menyediakan gambar otak dan urat saraf tulang belakang. Ketukan tulang belakang (spinal tap) untuk mengevaluasi cairan serebrospinal. Tes darah dan urin untuk mengetahui naiknya kadar glukosa. Tes genetik untuk mengidentifikasi gen yang dipengaruhi.
Studi pengantaran saraf, yang mengukur kecepatan saraf meneruskan rangsangan.
Elektrokardiogram (EKG), yang memberikan hasil grafik aktivitas elektrik atau pola denyut jantung Ekokardiogram, yang merekam posisi dan gerakan otot jantung.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan computed tomography (CT) scan, yang menyediakan gambar otak dan urat saraf tulang belakang. Ketukan tulang belakang (spinal tap) untuk mengevaluasi cairan serebrospinal. Tes darah dan urin untuk mengetahui naiknya kadar glukosa. Tes genetik untuk mengidentifikasi gen yang dipengaruhi.
·
Diagnosa Ataxia 2
Diagnosa
didasarkan pada sejarah kesehatan seseorang, sejarah keluarga, dan sebuah uji
sistem saraf. Tes darah dan sinar x, termasuk scan MRI otak dapat menunjukkan
yang mana otak kecil atau bagian-bagian otak atau sistem saraf lah yang sudah
diinfeksi oleh stroke, tumor, atau kemunduran saraf yang dapat menyebabkan
ataxia.
Tes genetik disediakan untuk bermacam-macam penyakit ataxia, walaupun beberapa dokter merasa lebih tepat jika seorang pasien memeriksakan diri ke spesialis genetik atau specialis ataxia sebelum mejalani sebuah tes gen. Diagnosa apakah seseorang terjangkit penyakit ini atau tidak dapat dibantu keakuratannya dengan berbagai informasi sejarah kesehatan keluarga serta gejala-gejala ataxia yang dialami si pasien.
Tes genetik disediakan untuk bermacam-macam penyakit ataxia, walaupun beberapa dokter merasa lebih tepat jika seorang pasien memeriksakan diri ke spesialis genetik atau specialis ataxia sebelum mejalani sebuah tes gen. Diagnosa apakah seseorang terjangkit penyakit ini atau tidak dapat dibantu keakuratannya dengan berbagai informasi sejarah kesehatan keluarga serta gejala-gejala ataxia yang dialami si pasien.
Beikut ini adalah daftar kondisi kesehatan dan saraf
(penyakit) yang dapat menyebabkan ataxia muncul
secara tiba-tiba:
1).
Stroke
2).
Pendarahan otak
3).
Tumor otak
4).
Stuktur yang rusak-otak kecil tidak dibentuk secara
layak selama pembentukkan sebelum lahir
5).
Penggunaan narkoba dan alkohol (minumnan keras
beralkohol)
6).
Defisiensi vitamin (vitamin E, vitamin B12)
Masalah orthopedi seperti deformitis kaki dan
skoliosis dapat diatasi dengan alat penguat atau operasi. Terapi fisik dapat
memperlama penggunaan lengan dan kaki. Peneliti berharap kemajuan dalam
memahami genetik ataksia Friedriech dapat menjadi pemecahan dalam pengobatan.
D. Pengobatan
Seiring dengan banyaknya penyakit degeneratif pada
sistem saraf, tidak ada obat atau pengobatan yang efektif untuk Ataksia Friedriech. Bagaimana
pun, banyak
gejala dan komplikasi yang dapat diobati untuk membantu
pasien mempertahankan fungsi optimal selama mungkin.
Diabetes, jika ada dapat diobati dengan diet dan obat seperti insulin dan
beberapa penyakit jantung juga dapat diobati dengan obat.
Perawatan kesehatan bagi penderita Ataxia tidak ada
obat khusus yang dapat menyembuhkan ataxia atau
gejala-gejala dari ataxia. Sekarang ini tujuan dari penyembuhan
ataxia adalah untuk memperbaiki kulitas hidup, diharapkan pula dengan
berjalannya waktu dapat ditemukan obat yang dapat menyembuhkan dari
siptom ataxia. Agar penderita ataxia dapat sebisa mungkin melakukan pekerjaan
sehari-hari "jalan, makan, kominikasi, dll.", maka diberikan peralatan-peralatan
yang dapat memudahkan mereka. Contohnya seperti kursi roda, tongkat,
tongkat penyokong tubuh, dan lain-lain. Jika penderita ataxia juga mengalami
stroke, kekurangan vitamin, keracunan obat-obatan dan alkohol, maka perawatan
yang diberikan termasuk perawatan khusus untuk hal-hal tersebut.
Banyak pasien baik yang ataxia karena faktor keturunan atau
sporadic mengalami berbagai gejala termasuk depresi, kejang-kejang, sulit tidur,
gemetaran, dan badan kaku.
No comments:
Post a Comment