KESEHATAN
MENTALSOLUSI PENGEMBANGAN KECERDASAN QALBIAH
A.
Pengertian Kecerdasan Qalbiah
Kecerdasan (dalam bahasa Inggris
disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka) menurut arti bahasa
adalah pemahaman, kecepatan,dan kesempurnaan sesuatu.
Struktur
nafsani manusia terbagi atas tiga komponen, yaitu kalbu, akal, dan nafsu
(syahwah dan ghadhab).
Pada
mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect)
dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan
aspek-aspek kognitif (al-majal al-ma’rifi). Namun pada perkembangan berikutnya,
disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal,
melainkan terdapat struktur kalbu untuk mengungkap masalah-masalah kecerdasan.
Kecerdasan kalbu tumbuh melalui aktualisasi potensi-potensinya, sehingga
menimbulkan perilaku qalbiah, yang pada puncaknya memiliki beberapa kecerdasan.
Kecerdasan kalbu yang dikembangkan tidak sebatas pada kecerdasan intelektual
(intuitif), emosi, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual, namun terdapat
kecerdasan yang lebih esensial, yaitu kecerdasan beragama atau bertuhan.
Kecerdasan beragama perlu ditambahkan sebab daya kalbu tidak terbatas pada
pencapaian kesadaran, kalbu mampu mencapai tingkat supra kesadaran. Kalbu mampu
menghantarkan manusia ada tingkat intelektual (intuitif), moranitas,
spiritualitas, keagamaan atau ketuhanan.
Manusia
dengan potensi kalbunya mampu menerima dan membenarkan wahyu, ilham, dan
firasat dari Allah SWT.
Penggunaan
“kecerdasan qalbiah” di sini dimaksudkan adalah menggambarkan sejumlah
kemampuan diri secara cepat dan sempurna, untuk mengenali kalbu dan
aktivitas-aktivasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis kalbu secara
benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan oarng lain dan
hubungan ubudiyah dengan Tuhan. Ciri utama kecerdasan qalbiah adlah respons
yang intuitif-ilahiah, lebih mendahulukan nilai-nilai ketuhanan (teosentris)
yang universal daripada nilai-nilai kemusiaan (antroposentris) yang temporer.
B.
Jenis-jenis Kecerdasan Qalbiah
1. Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan
intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif seperti
berpikir, daya menghubungkan, dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Atau,
kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemecahan masalah dengan
menggunakan logika. Menurut Thurstone, dengan teori multi-faktornya, menentukan
30 faktor yang menentukan kecerdasan intelektual, tujuh diantaranya yang
dianggap paling utama untuk ebilitas-ebilitan mental, yaitu :
1) Mudah dalam mempergunakan
bilangan
2) Baik ingatan
3) Mudah menangkap hubungan-hubungan
percakapan
4) Tajam penglihatan
5) Mudah menarik kesimpulan dari
data yang ada
6) Cepat mengamati, dan
7) Cakap dalam memecahkan berbagai
problem
Kecerdasan ini disebut juga
kecerdasan rasional (rational intelligence), sebab ia menggunakan potensi rasio
dalam memecahkan masalah. Melalui test IQ (intelligence quotient), tingkat
kecerdasan intelektual seseorang dapat dibandingkan dengan orang lain.
2.
Kecerdasan
Emosional
Goleman
mendefinisikan emosi dengan perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan
biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi
juga merupakan reaksi kompleks yang mengait suatu tingkat tinggi kegiatan dan
perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi dengan perasaan (feeling)
yang kuat atau keadaan efektif. Emosi kadang-kadang dibangkitkan oleh motivasi,
sehingga antara emosi dan motivasi terjadi hubungan interaktif.
Crow
dan Crow mendefinisikan emosi dengan suatu keadaan yang mempengaruhi dan
menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan
penggerak mental dan fisik bagi individu dan yang dapat dilihat melalui tingkah
laku luar.
Salovey
dan Mayer menggunakan istilah kecerdasan emosi untuk menggambarkan sejumlah
kemampuan mengenai emosi diri sendiri.
Ciri
utama emosional adalah respons yang cepat tetapi ceroboh, mendahulukan perasaan
daripada pemikiran, realitas simbolik yang seperti kanak-kanak, masa lampau
diposisiskan sebagai masa sekarang, dan realitas yang ditentukan oleh keadaan.
Kecerdasan
emosional merupakan hasil kerja otak kanan, sedangkan kecerdasan intelektual
merupakan hasil kerja otak kiri. Menurut DePorter dan Hernacki, otak kanan
manusia memiliki cara kerja yang acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik,
sedangkan otak kiri memiliki cara kerja yang logis, sekuensial, rasional, dan
linier.
Menurut
Joseph LeDoux, seorang ahli syarat di Centre for Neural Science di New York
University mengungkapkan bahwa pusat emosi barada di amigdala, yaitu sel yang
bertumpuh di batang otak. Ia memproses hai-hai yang berkaitan dengan emosi,
seperti sedih, marah,nafsu, Kasih sayang. Rusaknya amigdala dalam tubuh akan
mengakibatkan hilangnya emosi dalam kehidupan manusia. Kendala yang sering
menghalangi kecerdasan emosi adalh rasa malu, tidak mampu mengekspresikan perasaan,
terlalu emosional, perasaan yang mendua, frustasi, tidak ada motivasi diri,
sulit berempati dan sulit berteman.
3. Kecerdasan Moral
Robert Coles, seorang psikiater anak dan peneliti
pada Harvard University Health Services dan profesor psikiatri serta ilmu-ilmu
kemanusiaan medis pada Harvard Medical School. Karya Coles yang berkenaan
dengan kecerdasan moral adalah The Moral Intelligence of Children : How to
Raise a Moral Child tahun 1997.
Coles mencoba menarik konklusi tentang kecerdasan
moral. Coles mengakui bahwa pertama kali ia mendengar istilah “kecerdasan
moral” dari Rustin McIntosh, seorang dokter anak yang selalu memperhatikan
siakp pasiennya yang baik hati, lemah lembut, memikirkan orang lain, dan mampu
mengarahkan dirinya sendiri dengan baik. Namun ia mengemukakan bahwa kecerdasan
moral seolah-olah bidang ketiga dari otak (setelah kecerdasan intelektual dan
kecerdasan emosional) yang berhubungan dengan kemampuan yang tumbuh
perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan
menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikator
kecerdasaan moral adalah bagaimana sesesorang memiliki pengetahuan tentang
moral yang benar dan buruk, kemudian ia mampu menginternalisasikan moral yang
benar kedalam kwhidupan nyata, dan menghindarkan diri dari moral yang buruk.
Orang yang baik adalah orang yang memiliki kecerdasan moral, sedangkan orang
yang jahat merupakan orang yang ‘ideot’ moral.
Para psikolog, psikiater, dan konselor sering sekali
berbicara tentang anak yang cerdas atau anak yang kacau emosinya. Tetapi mereka
banyak melupakan bagian lain dari sisi kehidupan kliennya yang baik hatinya
atau memiliki perjalanan hidup yang panjang menuju kejahatan.
Kecerdasan moral tidak dapat dicapai dengan
menghafal atau mengingat kaidah atau aturan yang dipelajari di dalam kelas,
melainkan membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar. Ketika seorang anak
telah berinteraksi dengan lingkungan maka dapat diperhatikan bagaimana sikap
yang diperankan, apakah ia memiliki sikap yang sopan, penuh belas kasih adanya
atensi, tidak sombong atau angkuh, egois atau mementingkan diri sendiri, dan
sejumlah sikap lainnya.
4. Kecerdasan Spiritual
Zohar
dan Marshall mendakwahkan kecerdasan spiritual sebagai puncak kecerdasan,
setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral.
Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan spritual dengan kecerdasan
moral, namun muatan kecerdasan spritual lebih dalam, lebih luas, dan lebih
transenden daripada kecerdasan moral.
Kecerdasan
spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak umat manusia untuk ‘cerdas’
dalam memilih atau memeluk salah satu agama yang dianggap benar. Kecerdasan
spiritual lebih merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan bagaimana
seseorang ‘cerdas’ dalam megelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai,
dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya.
Kecerdasan
spiritual sebagai bagian dari psikologi memandang bahwa seseorang yang taat
beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual. Namun sebaliknya, bisa jadi
seseorang yang humanis-non-agamis memiliki kecerdasan spiritual yangtinggi,
sehingga sikap hidupnya insklusif, setuju dalam perbedaan (agree in
disagree-ment), dan penuh toleran. Hal itu menunjukkan bahwa makna
“spirituality” (keruhanian) di sini tidak selalu berarti agama atau bertuhan.
5. Kecerdasan Beragama
Kecerdasan
beragama, adalah kecerdasan kalnu yang berhubungan dengan kualitas beragama
atau bertuhan.
Kelima
model kecerdasan kalbu diatas harus di pahami denagn pendekatan sistem.
Artinya, masing-masing kecerdasan merupakan bagian-bagian yang otonom tetapi
saling kait mengait, ibarat mata rantai yang saling terpadu.
Dalam
satu perilaku terkadang memiliki muatan kecerdasan intelektual dan emosi, dan
bersamaan itu pula terdapat kecerdasan moral, spiritual, dan agama. kecerdasan
‘ikhlas’ misalnya merupakan akumulasi dari berbagai kecerdasan qalbiah.
Kecerdasan
intelektual (intuitif) dalam ikhlas berupa kematangan daya pikir manusia yang
bersumber dari kalbu, sehingga ia dapat menerima penderitaan untuk kebahagiaan
orang lain tanpa rasa pamrih. Kecerdasan emosional dalam ikhlas berupa penataan
kalbu kalbu yang jernih dan bening, sehingga sang pribadi dapat beraktivitas
secara hati-hati, waspada, dan tenang.
Kecerdasan
moral dalam ikhlas berupa penataan kalbu yang memprioritaskan pelaksaan
kewajiban daripada menuntut hak, sehingga ia tidak menuntut sesuatu diluar
beban yang dipikul.
Kecerdasan
spiritual dalam ikhlas berupa aktualisasi nilai-nilai kemanusiaanyang luhur,
yang semata-mata tidak mengutamakan kebutuhan material, melainkan merupakan
pengembangan kebutuhan spritualitas. Kecerdasan agama dalam ikhlas berupa
kemurnian kalbu yang semata-mata beraktivitas karena Allah SWT., sebab hanya
dia yang pantas menjadi tujuan dan tempat kembali dari segala realitas yang
ada.
Kecerdasan
agama lebih tinggi hirarkinya daripada kecerdasan kalbu yang lain.
Kecerdasan
yang terakhir merupakan bagian dari kecerdasan beragama. Keberartian kecerdasan spiritual dan kecerdasan
moral menopang pada kecerdasan beragama.
Terminologi
“kecerdasan kalbu” agaknya tidak asing, sebab dalam QS. Al-Hajj ayat 46 yang
artinya :
“Maka apakah mereka
tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka
berakal atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di
dalam dada. “
Kecerdasan qalbiah
juga terjadi ketika kalbu mampu berinteraksi dengan akal untuk meraih suatu
kesejahteraan dan kemakmuran. Kecerdasan model ini merupakan gabungan antara
fakultas zikir dan pikir yang hanya dimiliki oleh seseorang yang berpredikat
ili-albab.
C.
Bentuk-bentuk Kecerdasan Qalbiah
1. Kecerdasan ikhbat (al-ikhbat)
Ikhbat (al-ikhbat) adalah kondisi kalbu yang
memiliki kerendahan dan kelembutan hati, merasa tenang dan khusyuk di hadapan
Allah, dan tidak menganiaya pada rang lain.
2. Kecerdasan zuhud (al-zuhud)
Secara
harfiah, zuhud berarti berpaling, menganggap hina dan kecil, serta tidak merasa
butuh pada sesuatu.
3. Kecerdasan wara’ (al-wara).
Wara’
adalah menjaga diri dari perbuatan yang tidak ma’ruf yang dapat menurunkan
derajat dan kewibawaan diri seseorang.
4. Kecerdasan dalam berharap baik
(al-raja’).
Raja adalah berharap terhadap sesuatu kebaikan
kepada Allah SWT.
5. Kecerdasan ri’ayah (al-ri’ayah).
Ri’ayah
berarti memelihara pengetahuan yang pernah diperoleh dan mengaplikasikannya
dengan perilaku nyata, dengan cara melakukan perbuatan baik dan ikhlas, dan
menghindari perbuatan yang merusak.
6. Kecerdasan muqarabah
(al-muraqabah).
Muraqabah
berarti kesadaran seseorang bahwa Allah SWT.
7. Kecerdasan ikhlas (al-ikhlash).
Ikhlas
adalah kemurnian dan ketaatan yang ditujukan kepada Allah semata, dengan cara
membersihkan perbuatan, baik lahir maupun batin, dari perhatian makhluk.
8. Kecerdasan istiqamah
(al-istiqamah).
Istiqamah
berarti melakukan suatu pekerjaan baik melalui prinsip kontinuitas dan
keabadian.
9. Kecerdasan tawakkal
(al-tawakkal).
Tawakkal
adalah menyerahkan diri sepenuh hati, sehingga tiada beban psikologis yang
dirasakan.
10.
Kecerdasan
sabar (al-shabr).
Sabar
berarti menahan (al-habs). Maksudnya menahan diri dari hal-hal yang dibenci dan
menahan lisan agar tidak mengeluh. Sabar dapat menghindarkan seseorang dari
perasaan resah, cemas, marah, dan kekacauan.
11.
Kecerdasan
ridha (al-ridha).
Ridha
adalah rela terhadap apa yang dimilki dan diberikan. Ridha merupakan kedudukan
(maqam) spiritual seseorang yang diusahakan setelah ia melaksanakan tawakkal,
karena ridha menjadi pncak (nihayah) dari tawakkal.
12.
Kecerdasan
syukur (al-syukr).
Syukur
adalah menampakkan nikmat Allah SWT. Yang dilakukan oleh hambanya. Syukur lisan
artinya menampakkan dengan pujian dan pengakuan, syukur hati artinya penyaksian
dan merasa senang, dan syukur badan artinya tuduk dan patuh terhadap
perintah-Nya. Syukur juga diartikan sebagai kesadaran diri bahwa apa yang
diperbuat dianggap tidak/belum bernilai apa-apa, meskipun hal itu sudah
diupayakan secara maksimal.
13.
Kecerdasan
malu (al-haya).
Malu
berarti kepekaan diri yang mendorong untuk meninggalkan keburukan dan
menunaikan kewajiban.
14.
Kecerdasan
jujur (al-shidq).
Jujur
berarti kesesuaian antara yang diucapkan dengan kejadian yang sesungguhnya,
kesesuaian antara yang dirahasiakan dengan yang ditampakkan, dan perkataan yang
benar ketika berhadapan pada orang yang di takuti atau diharapkan.
15.
Kecerdasan
mementingkan atau mendahulukan kepentingan orang lain (al-itsar).
Mementingkan
kepentingan orang lain yang dimaksudkan disini bukan berkaitan dengan ibadah
mabdhab, tetapi berkaitan dengan mu’amalah.
16.
Kecerdasan
tawadhu’.
Tawadhu’
berarti sikap kalbu yang tenang, berwibawa,rendah hati, lemah, lembut, tanpa
disertai rasa jahat, congkak dan sombong.
17.
Kecerdasan
mu’ruah.
Mu’ruah
berarti sikap keperwiraan yang menjunjung tinggi sifat-sifat kemanusiaan yang
agung.
18.
Kecerdasan
dalam menerima apa adanya atau seadanya (qana’ah).
Sang
pribadi sesungguhnya telah menyerahkan segala daya upayanya seoptimal mungkin,
kemudian ia menerima hasil dari jerih payahnya, tetapi ia belum mampu mengapai
pincak keinginannya.
19.
Kecerdasan
takwa.
Takwa
secara bahasa berarti takut terhadap murka atau siksaan Allah SWT. Takwa
merupakan puncak kecerdasan qalbiah. Dikatakan puncak sebab tahapan untuk
mencapai takwa telah melewati semua tahapan-tahapan kecerdasan.
Kalbu
merupakan struktur nafsani yang paling dekat dengan fitrah al-ruh. Upaya
menumbuhkan kecerdasan qalbiah adalah dengan cara menyediakan fasilitas dan
peluang yang memadai terhadap kehidupan al-ruh, agar ia dapat mengaktual secara
sempurna.
Kecerdasan
qalbiah bukan hanya semata-mata diperoleh dari aktivitas yang diusahakan
(kasbi), yang ditempuh melalui tahapan-tahapan spiritual (maqamat), tetapi juga
diperoleh dari anugerah (fadhl) yang diberikan oleh Allah SWT. Karena itu,
perolehan kecerdasan qalbiah sangat subyektif.
Dalam
wacana psiko-sufistik, puncak kecerdasan qalbiah para sufi sangat bervariasi.
Al-Ghazali menyebutnya dengan ma’rifat dan kehadirah ilahi (al-badhrat
al-ilahiyat), Rabi’ah al-Adawiyah menyebutnya dengan al-mahahabbah, dan Ibnu
Arabi menyebutnya dengan wihdah al-wujud.
Kecerdasan
model ini berbentuk dalam integritas enam kompetensi keimanan, lima kompetensi
keislaman, dan multi kompetensi keihsanan. Proses perjalanan spiritualnya
(suluk) tidak dapt dipisah-pisahkan, apalagi ditinggalkan salah satunya. Iman
sebagai akar pohon, islam sebagai batang dan rantignya, sedangkan ihsan sebagai
daun dan buahnya.
Agama memiliki korelasi yang signifikan dengan
kecerdasan. Artinya, pengalaman ajaran agama ayng istiqamah dapat mengembangkan
kecerdasan manusia. Karena itu, kriteria kecerdasan tidak dapat dilepaskan
dengan nilai-nilai agama.
Assalamu'alaikum
ReplyDeletemaaf Mbak sebelumnya saya minta dri artikel Mbak, untuk saya pelajari
jadi Saya C0py
Assalamu'alaikum
ReplyDeletemaaf Mbak sebelumnya saya minta dri artikel Mbak, untuk saya pelajari
jadi Saya C0py sama komponen2 psikologi dalam islam