Wednesday, April 10, 2013

kesehatan mental dalam islam


KESEHATAN MENTALSOLUSI PENGEMBANGAN KECERDASAN QALBIAH

 

 

A.     Pengertian  Kecerdasan Qalbiah

Kecerdasan (dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan,dan kesempurnaan sesuatu.

Struktur nafsani manusia terbagi atas tiga komponen, yaitu kalbu, akal, dan nafsu (syahwah dan ghadhab).

Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal al-ma’rifi). Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu untuk mengungkap masalah-masalah kecerdasan. Kecerdasan kalbu tumbuh melalui aktualisasi potensi-potensinya, sehingga menimbulkan perilaku qalbiah, yang pada puncaknya memiliki beberapa kecerdasan. Kecerdasan kalbu yang dikembangkan tidak sebatas pada kecerdasan intelektual (intuitif), emosi, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual, namun terdapat kecerdasan yang lebih esensial, yaitu kecerdasan beragama atau bertuhan. Kecerdasan beragama perlu ditambahkan sebab daya kalbu tidak terbatas pada pencapaian kesadaran, kalbu mampu mencapai tingkat supra kesadaran. Kalbu mampu menghantarkan manusia ada tingkat intelektual (intuitif), moranitas, spiritualitas, keagamaan atau ketuhanan.

Manusia dengan potensi kalbunya mampu menerima dan membenarkan wahyu, ilham, dan firasat dari Allah SWT.

Penggunaan “kecerdasan qalbiah” di sini dimaksudkan adalah menggambarkan sejumlah kemampuan diri secara cepat dan sempurna, untuk mengenali kalbu dan aktivitas-aktivasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan oarng lain dan hubungan ubudiyah dengan Tuhan. Ciri utama kecerdasan qalbiah adlah respons yang intuitif-ilahiah, lebih mendahulukan nilai-nilai ketuhanan (teosentris) yang universal daripada nilai-nilai kemusiaan (antroposentris) yang temporer.

 


B.     Jenis-jenis Kecerdasan Qalbiah

1.    Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan, dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Atau, kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemecahan masalah dengan menggunakan logika. Menurut Thurstone, dengan teori multi-faktornya, menentukan 30 faktor yang menentukan kecerdasan intelektual, tujuh diantaranya yang dianggap paling utama untuk ebilitas-ebilitan mental, yaitu :

1)    Mudah dalam mempergunakan bilangan

2)    Baik ingatan

3)    Mudah menangkap hubungan-hubungan percakapan

4)    Tajam penglihatan

5)    Mudah menarik kesimpulan dari data yang ada

6)    Cepat mengamati, dan

7)    Cakap dalam memecahkan berbagai problem

Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan rasional (rational intelligence), sebab ia menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah. Melalui test IQ (intelligence quotient), tingkat kecerdasan intelektual seseorang dapat dibandingkan dengan orang lain.

 

2.        Kecerdasan Emosional

Goleman mendefinisikan emosi dengan perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi juga merupakan reaksi kompleks yang mengait suatu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi dengan perasaan (feeling) yang kuat atau keadaan efektif. Emosi kadang-kadang dibangkitkan oleh motivasi, sehingga antara emosi dan motivasi terjadi hubungan interaktif.

Crow dan Crow mendefinisikan emosi dengan suatu keadaan yang mempengaruhi dan menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan yang dapat dilihat melalui tingkah laku luar.

Salovey dan Mayer menggunakan istilah kecerdasan emosi untuk menggambarkan sejumlah kemampuan mengenai emosi diri sendiri.

Ciri utama emosional adalah respons yang cepat tetapi ceroboh, mendahulukan perasaan daripada pemikiran, realitas simbolik yang seperti kanak-kanak, masa lampau diposisiskan sebagai masa sekarang, dan realitas yang ditentukan oleh keadaan.

Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja otak kanan, sedangkan kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja otak kiri. Menurut DePorter dan Hernacki, otak kanan manusia memiliki cara kerja yang acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik, sedangkan otak kiri memiliki cara kerja yang logis, sekuensial, rasional, dan linier.

Menurut Joseph LeDoux, seorang ahli syarat di Centre for Neural Science di New York University mengungkapkan bahwa pusat emosi barada di amigdala, yaitu sel yang bertumpuh di batang otak. Ia memproses hai-hai yang berkaitan dengan emosi, seperti sedih, marah,nafsu, Kasih sayang. Rusaknya amigdala dalam tubuh akan mengakibatkan hilangnya emosi dalam kehidupan manusia. Kendala yang sering menghalangi kecerdasan emosi adalh rasa malu, tidak mampu mengekspresikan perasaan, terlalu emosional, perasaan yang mendua, frustasi, tidak ada motivasi diri, sulit berempati dan sulit berteman.

 

3.    Kecerdasan Moral

Robert Coles, seorang psikiater anak dan peneliti pada Harvard University Health Services dan profesor psikiatri serta ilmu-ilmu kemanusiaan medis pada Harvard Medical School. Karya Coles yang berkenaan dengan kecerdasan moral adalah The Moral Intelligence of Children : How to Raise a Moral Child tahun 1997.

Coles mencoba menarik konklusi tentang kecerdasan moral. Coles mengakui bahwa pertama kali ia mendengar istilah “kecerdasan moral” dari Rustin McIntosh, seorang dokter anak yang selalu memperhatikan siakp pasiennya yang baik hati, lemah lembut, memikirkan orang lain, dan mampu mengarahkan dirinya sendiri dengan baik. Namun ia mengemukakan bahwa kecerdasan moral seolah-olah bidang ketiga dari otak (setelah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional) yang berhubungan dengan kemampuan yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikator kecerdasaan moral adalah bagaimana sesesorang memiliki pengetahuan tentang moral yang benar dan buruk, kemudian ia mampu menginternalisasikan moral yang benar kedalam kwhidupan nyata, dan menghindarkan diri dari moral yang buruk. Orang yang baik adalah orang yang memiliki kecerdasan moral, sedangkan orang yang jahat merupakan orang yang ‘ideot’ moral.

Para psikolog, psikiater, dan konselor sering sekali berbicara tentang anak yang cerdas atau anak yang kacau emosinya. Tetapi mereka banyak melupakan bagian lain dari sisi kehidupan kliennya yang baik hatinya atau memiliki perjalanan hidup yang panjang menuju kejahatan.

Kecerdasan moral tidak dapat dicapai dengan menghafal atau mengingat kaidah atau aturan yang dipelajari di dalam kelas, melainkan membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar. Ketika seorang anak telah berinteraksi dengan lingkungan maka dapat diperhatikan bagaimana sikap yang diperankan, apakah ia memiliki sikap yang sopan, penuh belas kasih adanya atensi, tidak sombong atau angkuh, egois atau mementingkan diri sendiri, dan sejumlah sikap lainnya.

 

4.    Kecerdasan Spiritual

Zohar dan Marshall mendakwahkan kecerdasan spiritual sebagai puncak kecerdasan, setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral. Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan spritual dengan kecerdasan moral, namun muatan kecerdasan spritual lebih dalam, lebih luas, dan lebih transenden daripada kecerdasan moral.

Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak umat manusia untuk ‘cerdas’ dalam memilih atau memeluk salah satu agama yang dianggap benar. Kecerdasan spiritual lebih merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan bagaimana seseorang ‘cerdas’ dalam megelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya.

Kecerdasan spiritual sebagai bagian dari psikologi memandang bahwa seseorang yang taat beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual. Namun sebaliknya, bisa jadi seseorang yang humanis-non-agamis memiliki kecerdasan spiritual yangtinggi, sehingga sikap hidupnya insklusif, setuju dalam perbedaan (agree in disagree-ment), dan penuh toleran. Hal itu menunjukkan bahwa makna “spirituality” (keruhanian) di sini tidak selalu berarti agama atau bertuhan.

 

5.    Kecerdasan Beragama

Kecerdasan beragama, adalah kecerdasan kalnu yang berhubungan dengan kualitas beragama atau bertuhan.

 

Kelima model kecerdasan kalbu diatas harus di pahami denagn pendekatan sistem. Artinya, masing-masing kecerdasan merupakan bagian-bagian yang otonom tetapi saling kait mengait, ibarat mata rantai yang saling terpadu.

Dalam satu perilaku terkadang memiliki muatan kecerdasan intelektual dan emosi, dan bersamaan itu pula terdapat kecerdasan moral, spiritual, dan agama. kecerdasan ‘ikhlas’ misalnya merupakan akumulasi dari berbagai kecerdasan qalbiah.

Kecerdasan intelektual (intuitif) dalam ikhlas berupa kematangan daya pikir manusia yang bersumber dari kalbu, sehingga ia dapat menerima penderitaan untuk kebahagiaan orang lain tanpa rasa pamrih. Kecerdasan emosional dalam ikhlas berupa penataan kalbu kalbu yang jernih dan bening, sehingga sang pribadi dapat beraktivitas secara hati-hati, waspada, dan tenang.

Kecerdasan moral dalam ikhlas berupa penataan kalbu yang memprioritaskan pelaksaan kewajiban daripada menuntut hak, sehingga ia tidak menuntut sesuatu diluar beban yang dipikul.

Kecerdasan spiritual dalam ikhlas berupa aktualisasi nilai-nilai kemanusiaanyang luhur, yang semata-mata tidak mengutamakan kebutuhan material, melainkan merupakan pengembangan kebutuhan spritualitas. Kecerdasan agama dalam ikhlas berupa kemurnian kalbu yang semata-mata beraktivitas karena Allah SWT., sebab hanya dia yang pantas menjadi tujuan dan tempat kembali dari segala realitas yang ada.

Kecerdasan agama lebih tinggi hirarkinya daripada kecerdasan kalbu yang lain.

Kecerdasan yang terakhir merupakan bagian dari kecerdasan beragama. Keberartian           kecerdasan spiritual dan kecerdasan moral menopang pada kecerdasan beragama.

Terminologi “kecerdasan kalbu” agaknya tidak asing, sebab dalam QS. Al-Hajj ayat 46 yang artinya :

“Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka berakal atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. “

Kecerdasan qalbiah juga terjadi ketika kalbu mampu berinteraksi dengan akal untuk meraih suatu kesejahteraan dan kemakmuran. Kecerdasan model ini merupakan gabungan antara fakultas zikir dan pikir yang hanya dimiliki oleh seseorang yang berpredikat ili-albab.

C.     Bentuk-bentuk Kecerdasan Qalbiah

1.  Kecerdasan ikhbat (al-ikhbat)

Ikhbat (al-ikhbat) adalah kondisi kalbu yang memiliki kerendahan dan kelembutan hati, merasa tenang dan khusyuk di hadapan Allah, dan tidak menganiaya pada rang lain.

 

 

2.    Kecerdasan zuhud (al-zuhud)

Secara harfiah, zuhud berarti berpaling, menganggap hina dan kecil, serta tidak merasa butuh pada sesuatu.

3.    Kecerdasan wara’ (al-wara).

Wara’ adalah menjaga diri dari perbuatan yang tidak ma’ruf yang dapat menurunkan derajat dan kewibawaan diri seseorang.

4.    Kecerdasan dalam berharap baik (al-raja’).

 Raja adalah berharap terhadap sesuatu kebaikan kepada Allah SWT.

5.    Kecerdasan ri’ayah (al-ri’ayah).

Ri’ayah berarti memelihara pengetahuan yang pernah diperoleh dan mengaplikasikannya dengan perilaku nyata, dengan cara melakukan perbuatan baik dan ikhlas, dan menghindari perbuatan yang merusak.

6.    Kecerdasan muqarabah (al-muraqabah).

Muraqabah berarti kesadaran seseorang bahwa Allah SWT.

7.    Kecerdasan ikhlas (al-ikhlash).

Ikhlas adalah kemurnian dan ketaatan yang ditujukan kepada Allah semata, dengan cara membersihkan perbuatan, baik lahir maupun batin, dari perhatian makhluk.

8.    Kecerdasan istiqamah (al-istiqamah).

Istiqamah berarti melakukan suatu pekerjaan baik melalui prinsip kontinuitas dan keabadian.

 

9.    Kecerdasan tawakkal (al-tawakkal).

Tawakkal adalah menyerahkan diri sepenuh hati, sehingga tiada beban psikologis yang dirasakan.

10.          Kecerdasan sabar (al-shabr).

Sabar berarti menahan (al-habs). Maksudnya menahan diri dari hal-hal yang dibenci dan menahan lisan agar tidak mengeluh. Sabar dapat menghindarkan seseorang dari perasaan resah, cemas, marah, dan kekacauan.

11.          Kecerdasan ridha (al-ridha).

Ridha adalah rela terhadap apa yang dimilki dan diberikan. Ridha merupakan kedudukan (maqam) spiritual seseorang yang diusahakan setelah ia melaksanakan tawakkal, karena ridha menjadi pncak (nihayah) dari tawakkal.

12.          Kecerdasan syukur (al-syukr).

Syukur adalah menampakkan nikmat Allah SWT. Yang dilakukan oleh hambanya. Syukur lisan artinya menampakkan dengan pujian dan pengakuan, syukur hati artinya penyaksian dan merasa senang, dan syukur badan artinya tuduk dan patuh terhadap perintah-Nya. Syukur juga diartikan sebagai kesadaran diri bahwa apa yang diperbuat dianggap tidak/belum bernilai apa-apa, meskipun hal itu sudah diupayakan secara maksimal.

13.          Kecerdasan malu (al-haya).

Malu berarti kepekaan diri yang mendorong untuk meninggalkan keburukan dan menunaikan kewajiban.

14.          Kecerdasan jujur (al-shidq).

Jujur berarti kesesuaian antara yang diucapkan dengan kejadian yang sesungguhnya, kesesuaian antara yang dirahasiakan dengan yang ditampakkan, dan perkataan yang benar ketika berhadapan pada orang yang di takuti atau diharapkan.

15.          Kecerdasan mementingkan atau mendahulukan kepentingan orang lain (al-itsar).

Mementingkan kepentingan orang lain yang dimaksudkan disini bukan berkaitan dengan ibadah mabdhab, tetapi berkaitan dengan mu’amalah.

16.          Kecerdasan tawadhu’.

Tawadhu’ berarti sikap kalbu yang tenang, berwibawa,rendah hati, lemah, lembut, tanpa disertai rasa jahat, congkak dan sombong.

17.          Kecerdasan mu’ruah.

Mu’ruah berarti sikap keperwiraan yang menjunjung tinggi sifat-sifat kemanusiaan yang agung.

18.          Kecerdasan dalam menerima apa adanya atau seadanya (qana’ah).

Sang pribadi sesungguhnya telah menyerahkan segala daya upayanya seoptimal mungkin, kemudian ia menerima hasil dari jerih payahnya, tetapi ia belum mampu mengapai pincak keinginannya.

 

19.          Kecerdasan takwa.

Takwa secara bahasa berarti takut terhadap murka atau siksaan Allah SWT. Takwa merupakan puncak kecerdasan qalbiah. Dikatakan puncak sebab tahapan untuk mencapai takwa telah melewati semua tahapan-tahapan kecerdasan.

 
Metode Menumbuhkankembangkan Kecerdasan Qalbiah

Kalbu merupakan struktur nafsani yang paling dekat dengan fitrah al-ruh. Upaya menumbuhkan kecerdasan qalbiah adalah dengan cara menyediakan fasilitas dan peluang yang memadai terhadap kehidupan al-ruh, agar ia dapat mengaktual secara sempurna.

Kecerdasan qalbiah bukan hanya semata-mata diperoleh dari aktivitas yang diusahakan (kasbi), yang ditempuh melalui tahapan-tahapan spiritual (maqamat), tetapi juga diperoleh dari anugerah (fadhl) yang diberikan oleh Allah SWT. Karena itu, perolehan kecerdasan qalbiah sangat subyektif.

Dalam wacana psiko-sufistik, puncak kecerdasan qalbiah para sufi sangat bervariasi. Al-Ghazali menyebutnya dengan ma’rifat dan kehadirah ilahi (al-badhrat al-ilahiyat), Rabi’ah al-Adawiyah menyebutnya dengan al-mahahabbah, dan Ibnu Arabi menyebutnya dengan wihdah al-wujud.

Kecerdasan model ini berbentuk dalam integritas enam kompetensi keimanan, lima kompetensi keislaman, dan multi kompetensi keihsanan. Proses perjalanan spiritualnya (suluk) tidak dapt dipisah-pisahkan, apalagi ditinggalkan salah satunya. Iman sebagai akar pohon, islam sebagai batang dan rantignya, sedangkan ihsan sebagai daun dan buahnya.
Agama memiliki korelasi yang signifikan dengan kecerdasan. Artinya, pengalaman ajaran agama ayng istiqamah dapat mengembangkan kecerdasan manusia. Karena itu, kriteria kecerdasan tidak dapat dilepaskan dengan nilai-nilai agama.

2 comments:

  1. Assalamu'alaikum
    maaf Mbak sebelumnya saya minta dri artikel Mbak, untuk saya pelajari
    jadi Saya C0py

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum
    maaf Mbak sebelumnya saya minta dri artikel Mbak, untuk saya pelajari
    jadi Saya C0py sama komponen2 psikologi dalam islam

    ReplyDelete

footer