PENGERTIAN
DAN SEJARAH PSIKOLOGI ISLAM
A.
Pengertian Psikologi Islam
Menurut Djamaluddin
Ancok dan Fuad Nashori (2004:146) tidak menyebut psikologi Islam, tapi
psikologi Islami dengan mengartikannya sebagai persfektif Islam terhadap
psikologi modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dan
bertentangan dengan Islam.
Hana Djumhana Bastaman
(2005:10) mendefinisikan psikologi Islam dengan corak psikologi berdasarkan
citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan dan pola perilaku
manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan
sekitar dan alam kerohanian dengan
tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas beragamaan.
Dalam bukunya yang
berjudul Psikologi Islam, Rafy Sapuri, M.Si mengatakan bahwa psikologi Islam
adalah usaha membangun sebuah teori dari khazanah kepustakaan Islam, baik dari
Al-Qur’an, Hadist atau kitab-kitab klasik yang ditulis oleh ulama-ulama Islam
populer sehingga dapat mewarnai dunia psikologi yang sekarang terus berkembang dengan
pesat.
Dalam persfektif Islam,
psikologi Islam adalah cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah
laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang
dianutnya.[1]
Selain dilahirkan dari
penelitian empirik, psikologi Islam juga berdasarkan kepada kitab suci
al-Qur’an dan kajian sunnah Nabi SAW.
Dengan demikian, Psikologi Islam tak hanya berdimensi ilmu jiwa secara
psikologis, tetapi juga ilmu jiwa dalam hubungannya dengan Tuhan, Allah Swt.
B.
Sejarah Psikologi
Islam
Psikologi mulai berkembang semenjak tahun 1978 pada
saat itu di Universitas Riyadl Arab Saudi berlangsung simposium internasional
tentang psikologi dan Islam (Internasional
Simposium on Psychology and Islam). Setahun sesudah itu di Inggris terbit
sebuah buku kecil yang sangat monumental di dunia muslim yaitu The Dilemma of Muslim Psychologist yang
di tulis B. Badri.
Pertemuan ilmiah
internasional dan penerbitan buku memberikan inspirasi bagi lahirnya dan
berkembangnya psikologi Islam. Momentum psikologi Islami di Indonesia adalah
tahun 1994, diterbitkan buku Psikologi
Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi (Djamaludin Ancok &
Fuad Nashori Suroso) bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan Simposium Nasional Psikologi Islami I.
Secara khusus psikologi Islam dimaksudkan untuk memahami keadaan psikospiritual manusia dan juga
berusaha meningkatkan kualitas hidup mereka sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang paripurna.
Ada dua faktor yang
menjadi pendorong utama lahirnya psikologi islam yaitu kebangkitan islam dan
kritisme pengetahuan modern.
C.
Perkembangan Psikologi
Islam
1.
Kebangkitan Islam
Sejak awal abad ke-15
hijriyah, menguat semangat umat Islam untuk kembali pada ajaran Islam. Umat
Islam dari berbagai belahan bumi mulai menyadari perlunya menjadikan Islam
sebagai sistem kehidupan. Semangat kebangkitan Islam ini menyebar pada ilmuwan
Muslim. Mereka mempunyai keinginan untuk menggali al-Qur’an dan Sunah Nabi
(al-Hadist) secara lebih mendalam sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan.
Salah satu topic yang paling sering dibicarakan adalah tentang Islamisasi ilmu.
Salah satu tokoh
Islamisasi yaitu Ismail al-Faruqi, mengungkapkan bahwa kecenderungan umat Islam
meniru begitu saja budaya Barat menjadikan umat Islam tercerabut dari akar
budaya dan ideologinya sendiri.[2]
Umat Islam yang seharusnya menyandarkan diri pada ajaran Islam ternyata lebih
banyak menggunakan system peradaban dan ilmu pengetahuan Barat sebagai dasar
pemikaran dan tingkah lakunya. Jika di biarkan,lama kelamaan akan muncul
dualisme dalam diri manusia. Dimana
secara ritual manusia melaksanakan praktik Islam,namun dalam pola piker dan
pola kerjanya manusia mengikuti system ilmiah Barat.
Tokoh islamisasi lain
yaitu Al-Faruqi meyakin kita bahwa setiap Muslim harus menyandarkan pemikiran
dan tindakannya kepada ajaran Islam. Al-Faruqi meyakini tauhid sebagai salah
satu pijakan dasar, seperti yang diuraikan dalam buku Tawhid.[3]
Menurutnya, cirri utama ilmu pengetahuan Islam adalah menjadikan tauhid sebagai
pondasinya.
Dalam bukunya yang
berjudul Tawhid and Science, Osman
Bakar mengatakan bahwa sains pantas disebut sains Islam karena sains tersebut,
secara konseptual, terkait secara orisinil dengan ajaran Islam; yang paling
penting diantaranya adalah prinsip tauhid.
2.
Kritisisme
Ilmu Pengetahuan Modern
Semakin dipercayai
bahwa dalam tradisi ilmu pengetahuan selalu berkembang apa yang disebut sebagai
mengeritik yang lama dan membangun yang baru. Paradigma ilmu pengetahuan yang
lama, yang mampu lagi menjalankan perannya untuk menjelaskan fakta-fakta,
fenomena-fenomena atau kecenderungan-kecenderungan yang baru dalam kehidupan
ini, digeser dan digantikan paradigma ilmu pengetahuan yang lebih mampu menjalankan
peran tersebut.[4]
Salah satu kritik tajam
dalam ilmu pengetahuan Barat modern adalah kecenderungannya untuk memahami
realitas secara empirik yang hanya mampu memahami sebatas kemampuan indra
manusia. Padahal realitas bukan semata-semata sesuatu yang empirik, tapi juga
ada realitas non-empirik.
Begitu juga ilmu
pengetahuan yang menyandarkan diri kepada rasional juga gagal memahami realitas
dunia ruh. Fritjof Schuon dalam Logic and
Transcendence, mengatakan bahwa rasionalisme itu keliru bukan karena ia berupaya
untuk mengekspresikan realitas secara rasional, sejauh hal itu memungkinkan,
tetapi karena dia berupaya untuk merangkul seluruh realitas kedalam alam rasio,
seakan-akan rasio ini sesuai dengan prinsip segala sesuatu.[5]
Karenanya, ilmu pengetahuan Barat yang banyak menyadarkan diri pada data dan
fakta di lapangan atau yang menyandarkan diri pada rasionalisme gagal memahami
orang yang beragama atau orang yang beribadah.
Ketika cara pandang
Thomas Kuhn digunakan untuk melihat perkembangan psikologi, ternyata dalam
psikologi selalu terjadi pergeseran dan pergantian paradigma.[6]
Aliran-aliran lama banyak digantikan oleh aliran-aliran yang baru. Keadaan ini
mengisyaratkan bahwa selalu terbuka peluang untuk menghadirkan paradigma baru
dalam kancah pemikiran psikologi, terutama jika terdapat krisis.
Adanya inspirasi kebangkitan Islam dan adanya
tradisi pergeseran paradigma dalam ilmu pengetahuan ini mendorong ilmuwan
Muslim segera menyambut dengan keinginan melahirkan ilmu pengetahuan yang
disandarkan kepada ajaran Islam. Salah satunya adalah lahirnya semangat untuk
membangun psikologi Islam, psikologi yang didasarkan pada pandangan dunia
Islam.
[1]
Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Pers, 2000.
[2]
Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principle and Workplan,Wyncote, Pensylvania, 1982.
[3] Ismail Raji al-Faruqi, Tawhid: Its Implications for Thoughts and Life, Pensylvania, 1982.
[4] Fuad Nashori, Pergeseran Paradigma Ilmu Pengetahuan,
dalam Suara Pembaruan,12 September
1996.
[5]
Fritjof Schuon, Logic and Transcendence, Station of Wisdom, Perennial Book,
Middlesex, 1980.
[6] H. Fuad Nashori, Agenda
Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, 2002.
No comments:
Post a Comment