Wednesday, April 10, 2013

psikologi islam

PENGERTIAN DAN SEJARAH PSIKOLOGI ISLAM

 

A.        Pengertian Psikologi Islam

Menurut Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori (2004:146) tidak menyebut psikologi Islam, tapi psikologi Islami dengan mengartikannya sebagai persfektif Islam terhadap psikologi modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dan bertentangan dengan Islam.
Hana Djumhana Bastaman (2005:10) mendefinisikan psikologi Islam dengan corak psikologi berdasarkan citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar  dan alam kerohanian dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas beragamaan.
Dalam bukunya yang berjudul Psikologi Islam, Rafy Sapuri, M.Si mengatakan bahwa psikologi Islam adalah usaha membangun sebuah teori dari khazanah kepustakaan Islam, baik dari Al-Qur’an, Hadist atau kitab-kitab klasik yang ditulis oleh ulama-ulama Islam populer sehingga dapat mewarnai dunia psikologi yang sekarang terus berkembang dengan pesat.
Dalam persfektif Islam, psikologi Islam adalah cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya.[1]
Selain dilahirkan dari penelitian empirik, psikologi Islam juga berdasarkan kepada kitab suci al-Qur’an dan kajian sunnah Nabi SAW. Dengan demikian, Psikologi Islam tak hanya berdimensi ilmu jiwa secara psikologis, tetapi juga ilmu jiwa dalam hubungannya dengan Tuhan, Allah Swt.

 

B.        Sejarah Psikologi Islam

Psikologi  mulai berkembang semenjak tahun 1978 pada saat itu di Universitas Riyadl Arab Saudi berlangsung simposium internasional tentang psikologi dan Islam (Internasional Simposium on Psychology and Islam). Setahun sesudah itu di Inggris terbit sebuah buku kecil yang sangat monumental di dunia muslim yaitu The Dilemma of Muslim Psychologist yang di tulis B. Badri.
Pertemuan ilmiah internasional dan penerbitan buku memberikan inspirasi bagi lahirnya dan berkembangnya psikologi Islam. Momentum psikologi Islami di Indonesia adalah tahun 1994, diterbitkan buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi (Djamaludin Ancok & Fuad Nashori Suroso) bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan Simposium Nasional Psikologi Islami I. Secara khusus psikologi Islam dimaksudkan untuk memahami  keadaan psikospiritual manusia dan juga berusaha meningkatkan kualitas hidup mereka sehingga mereka tumbuh menjadi  pribadi yang paripurna.
Ada dua faktor yang menjadi pendorong utama lahirnya psikologi islam yaitu kebangkitan islam dan kritisme pengetahuan modern.
 
 

C.         Perkembangan Psikologi Islam

1.         Kebangkitan Islam

Sejak awal abad ke-15 hijriyah, menguat semangat umat Islam untuk kembali pada ajaran Islam. Umat Islam dari berbagai belahan bumi mulai menyadari perlunya menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Semangat kebangkitan Islam ini menyebar pada ilmuwan Muslim. Mereka mempunyai keinginan untuk menggali al-Qur’an dan Sunah Nabi (al-Hadist) secara lebih mendalam sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu topic yang paling sering dibicarakan adalah tentang Islamisasi ilmu.
Salah satu tokoh Islamisasi yaitu Ismail al-Faruqi, mengungkapkan bahwa kecenderungan umat Islam meniru begitu saja budaya Barat menjadikan umat Islam tercerabut dari akar budaya dan ideologinya sendiri.[2] Umat Islam yang seharusnya menyandarkan diri pada ajaran Islam ternyata lebih banyak menggunakan system peradaban dan ilmu pengetahuan Barat sebagai dasar pemikaran dan tingkah lakunya. Jika di biarkan,lama kelamaan akan muncul dualisme  dalam diri manusia. Dimana secara ritual manusia melaksanakan praktik Islam,namun dalam pola piker dan pola kerjanya manusia mengikuti system ilmiah Barat.
Tokoh islamisasi lain yaitu Al-Faruqi meyakin kita bahwa setiap Muslim harus menyandarkan pemikiran dan tindakannya kepada ajaran Islam. Al-Faruqi meyakini tauhid sebagai salah satu pijakan dasar, seperti yang diuraikan dalam buku Tawhid.[3] Menurutnya, cirri utama ilmu pengetahuan Islam adalah menjadikan tauhid sebagai pondasinya.
Dalam bukunya yang berjudul Tawhid and Science, Osman Bakar mengatakan bahwa sains pantas disebut sains Islam karena sains tersebut, secara konseptual, terkait secara orisinil dengan ajaran Islam; yang paling penting diantaranya adalah prinsip tauhid.
 
2.         Kritisisme Ilmu Pengetahuan Modern
Semakin dipercayai bahwa dalam tradisi ilmu pengetahuan selalu berkembang apa yang disebut sebagai mengeritik yang lama dan membangun yang baru. Paradigma ilmu pengetahuan yang lama, yang mampu lagi menjalankan perannya untuk menjelaskan fakta-fakta, fenomena-fenomena atau kecenderungan-kecenderungan yang baru dalam kehidupan ini, digeser dan digantikan paradigma ilmu pengetahuan yang lebih mampu menjalankan peran tersebut.[4]
Salah satu kritik tajam dalam ilmu pengetahuan Barat modern adalah kecenderungannya untuk memahami realitas secara empirik yang hanya mampu memahami sebatas kemampuan indra manusia. Padahal realitas bukan semata-semata sesuatu yang empirik, tapi juga ada realitas non-empirik.
Begitu juga ilmu pengetahuan yang menyandarkan diri kepada rasional juga gagal memahami realitas dunia ruh. Fritjof Schuon dalam Logic and Transcendence, mengatakan bahwa rasionalisme itu keliru bukan karena ia berupaya untuk mengekspresikan realitas secara rasional, sejauh hal itu memungkinkan, tetapi karena dia berupaya untuk merangkul seluruh realitas kedalam alam rasio, seakan-akan rasio ini sesuai dengan prinsip segala sesuatu.[5] Karenanya, ilmu pengetahuan Barat yang banyak menyadarkan diri pada data dan fakta di lapangan atau yang menyandarkan diri pada rasionalisme gagal memahami orang yang beragama atau orang yang beribadah.
Ketika cara pandang Thomas Kuhn digunakan untuk melihat perkembangan psikologi, ternyata dalam psikologi selalu terjadi pergeseran dan pergantian paradigma.[6] Aliran-aliran lama banyak digantikan oleh aliran-aliran yang baru. Keadaan ini mengisyaratkan bahwa selalu terbuka peluang untuk menghadirkan paradigma baru dalam kancah pemikiran psikologi, terutama jika terdapat krisis.
Adanya inspirasi kebangkitan Islam dan adanya tradisi pergeseran paradigma dalam ilmu pengetahuan ini mendorong ilmuwan Muslim segera menyambut dengan keinginan melahirkan ilmu pengetahuan yang disandarkan kepada ajaran Islam. Salah satunya adalah lahirnya semangat untuk membangun psikologi Islam, psikologi yang didasarkan pada pandangan dunia Islam.


[1] Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Pers, 2000.
[2] Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principle and  Workplan,Wyncote, Pensylvania, 1982.
[3] Ismail Raji al-Faruqi, Tawhid: Its Implications for Thoughts and Life, Pensylvania, 1982.
[4] Fuad Nashori, Pergeseran Paradigma Ilmu Pengetahuan, dalam Suara Pembaruan,12 September 1996.
[5] Fritjof Schuon, Logic and Transcendence, Station of Wisdom, Perennial Book, Middlesex, 1980.
[6] H. Fuad Nashori, Agenda Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, 2002.

No comments:

Post a Comment

footer