Wednesday, April 10, 2013

Prinsip dan Konsep Dasar Psikologi Barat dalam Perspektif Aspek-aspek Manusia Menurut Al-Quran

Prinsip dan Konsep Dasar Psikologi Barat dalam Perspektif Aspek-aspek Manusia Menurut Al-Quran

1.         Aspek-aspek Manusia Berdasarkan Telaah Ayat-ayat Al-Quran

Dari ayat-ayat Al-Quran tentang konsep manusia, dapat dirumuskan aspek aspek dan dimensi-dimensi diri manusia. Dalam Webster’s New World College Dictionary dijelaskan bahw diantara makna istilah aspek adalah sudut atau sisi pandang. Beberapa makna yaitu :

a.          Cara seseorang terlihat, tampil, atau tampak,

b.         Penampilan sesuatu seperti yang terlihat dari sudut pandangan tertentu;

c.          Salah satu cara yang memungkinkan suatu ide, problem, dan lain-lain, dapat dipandang atau dipertimbangkan semua aspeknya

d.         Sisi yan terlihat secra langsung;

Makna ini berdekatan dengan dimensi. Dimensi lebih menekankan pada kadar dan nilai dari sisi diri manusia. Sementara aspek lebih menekan pada sudut pandang tampilan sisi jiwa manusia. Dengan kata lain, dimensi berada dalam wilayah ‘hamparan’ aspek.

Diri manusia adalah satu keseluruhan yang utuh, namun dalam tampilannya selalu menyondorkan sisi tertentu, seperti: jismiah (fisik), nafsiah (psikis), dan ruhanniah (spiritual-transendental). Dalam pandangan al-quran, manusia memiliki tiga aspek pembentuk totalitas manusia yang secara tegas dapat dibedakan, namun secra pasti tidak dapat dipisahkan. Ketiga aspek itu adalah (fisik, biologis), nafsiah (psikis, psikologis), dan ruhanniah (spiritual-transendental).

a.       Aspek Jismiah

Aspek jismiah[1] adalah organ fisik-biologis manusia dengan segala perangkat-perangkatnya. Organ fisik biologis manusia adalah organ fisik yang paling sempurna diantara semua makhluk. Manusia, hewan dn tumbuh-tumbuhan memiliki proses penciptaan yang sama. Maka semua alam fisik material memiliki unsur material dasar yang sama, yaitu tersusun dari unsur tanah, api, air, dan udara. Manusia juga terdiri dari unsur demikian, namun manusia tersusun secara proporsional paling sempurna dari keempat unsur tersebut. Keempat unsur tersebut adalah material dasar yang mati.

Aspek jismiah itu memiliki dua sifat dasar. Pertama, berupa tubuh kasar yang tampak. Kedua, berupa nyawa halus yang menjadi sarana kehidupan tubuh. Aspek pertama inilah yang mampu berinteraksi dengan aspek nafsiah dan ruhaniyah manusia.

Dapat disimpulkan bahwa aspek jismiah ini memiliki beberapa karakteristik, seperti: memiliki bentuk, rupa, kuantitas, berkadar, bergerak, diam, tumbuh, kembang, serta berjasad yang terdiri dari beberapa organ, dan bersifat material yang substansinya sebenarnya mati, dan lain-lain.

b.       Aspek Nafsiah

Aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas khas kemanusiaan, berupa pikiran, perasaan, kemauan, dan kebebasan. Aspek ini merupakan persentuhan antara aspek jismiah dengan aspek ruhaniah. Aspek ini mewadahi kedua aspek yang saling berbeda dan mungkin berlawanan.

Aspek jismiah dengan aspek utamanya yang bersifat empiris, konkret, indrawi, mekanistik dan deterministik. Aspek ruhaniah bersifat spiritual, transenden, suci, bebas tidak terikat pada hukum dan prinsip alam, dan cenderung kepada kebaikan. Keduanya saling berbeda dan berlawanan, tetapi keduanya juga saling membutuhkan. Sebab aspek jismiah akan hilang daya hidupnya apabila tidak memiliki aspek ruhaniah, aspek ruhaniah juga tidak akan terwujud secara konkret tanpa aspek jismiah. Disinilah aspek nafsiah berada, yaitu berada diantara dua aspek yan berbeda itu dan berusaha mewadahi kedua kepentingan yang berbeda. Aspek nafsiah itu memiliki tiga dimensi utama, yaitu al-nafsu, al-‘aql, dan al-qalb. Ketiga sapek ini yang menjadi sarana bagi aspek nafsiah ini untuk mewujudkan peran dan fungsinya.

1.       Dimensi al-nafsu

Dimensi yang memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam sistem psikis manusia. Namun dapat diarahkan setelah mendapat pengaruh yang besar dari dimensi lain, seperti al-‘aql dan al-qalb, al-ruh, dan al-fitrah. Dalam al-Quran al-nafsu adalah  daya-daya psikis yang mempunyai kekuatan ganda, yaitu daya al-gadabiyyah dan daya al-syahwaniyyah. Al-gadab adalah daya yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala yang membahayakan dan mencelakakan. sementara al-syahwaniyyah adalah daya yang berpotensi untuk mengejar segla yang menyenangkan.

2.       Dimensi al-‘aql

Dimensi akal adalah penengah dimensi nafsu dan qalb. Dimensi al-nafsu yang memiliki sifat kebinatangan, sementara al-qalb yang memiliki sifat dasar kemanusiaan dan berdaya cita-rasa. Dalam kedudukannya seperti itulah, akal menjadi perantara dan penghubung antara kedua dimensi tersebut. Dimensi ini merupakn peranan penting berupa fungsi pikiran yang merupakan kualitas insniyah pada psikis manusia.

3.       Dimensi al-qalb

Dimensi al-qalb memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan sifat insaniyah (kemanusiaan) bagi psikis manusia. Dapat dipahami dari banyaknya istilah lain yang semakna dengan al-qalb yang mengandung makn fungsi tersebut. Diantaranya adalah : (1) al-sadr, yaitu tempat perasaan waswas; (2) al-qalb, yaitu tempat iman; (3) al-syagaf, yaitu tempat cinta; (4) al-fu’ad, yang dapat memelihara kebenaran; (5) habat al-qalb, yaitu tempat cinta dan kebenaran; (6) al-suwida, yaitu tempat ilmu dan agama; (7) mahajah al-qalb, yang merupakan manifestasi sifat-sifat Allah; (8) al-damir, yang merupakan tempat merasa dan daya rekoleksi (al-quwwah al-hafizah); dan (9) al-sirr, sebgai bagian qalb yang paling halus dan rahasia. Jadi tepatlah kiranya jika al-qalb menjadi penentu dalam kapasitas kebaikan dan keburukan seseorang.

c.        Aspek Ruhaniah

Aspek ini adalah aspek psikis manusia yang bersifat spiritual dan transcendental. Bersifat spiritual karena merupakan potensi luhur batin manusia yang bersifat dasar dari dalam diri manusia yang berasal dari ruh ciptaan Allah. Bersifat transendental karena yang mengatur hubungan manusia dengan yang maha transenden, yaitu Allah. Aspek ruhaniah ini memiliki dua dimensi psikis, yaitu dimensi al-ruh dan dimensi al-fitrah.

2.         Konsep Dasar Psikologi Barat dalam Perspektif Aspek-aspek Manusia Menurut Al-Quran

Menurut pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran aspek-aspek manusia itu ada tiga, yaitu : pertama aspek jismiah; kedua aspek nafsiah, dan ketiga aspek ruhaniah. Jika konsep tersebut dijadikan dasar untuk menelaah konsep dasar psikologi barat, maka dapat dijelaskan bahwa psikologi barat berada dalam dua aspek jismiah dan aspek nafsiah. Sementara aspek ruhaniah tidak terjangkau dalam psikologi barat secara ringkas.

 

1.         Psikologi Fisiologi

Psikologi ini membahas tingkah laku manusia berdasarkan kajian terhadap sistem syaraf dan fungsi kelenjar manusia. Pusat sistem saraf tersebut adalah diotak dan sumsum tulang belakang, maka semua tingkah laku manusia dapat dipelajari melalui perubahan pada sistem saraf ini. Psikologi Fisiologi dapat disebut dengan pendekatan neorobiologi. Pendekatan ini menitik beratkan perhatian pada hubungan prilaku dengan hal-hal yang terjadi di dalam tubuh, terutama dalam otak dan sistem syaraf. Menurut pendekatan ini, jelas ada hubungan yang erat antara kegiatan otak, prilaku, dan pengalaman manusia. Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa psikologi fisiologi membahas manusia dari segi aspek fisik-biologisnya saja dan tidak menganalisis dari segi lainnya.

Psikoanalisa banyak mendasar konsepnya pada dimensi al-nafsu. Psikoanalisa Sigmund Freud (1273-1356 H/ 1856-1939M), dipandang sebagai dasar bagi psikoanalisa lainnya. Konsep dasar dari psikoanalisa itu tidak banyak mengalami perubahan, masih tetap seperti semula.

                Dalam pandangan Sigmund Freud (1273-1356 H/ 1856-1939M) kepribadian manusia terdiri dari 3 sistem, yaitu id, ego, super ego[2]. Id merupakan mencari pemuasan dalam realitas eksternal dan bekerja menurut prinsip kenikmatan (nafsu), seperti makan, minum, istirahat atau rangsangan agretifitas dan seksualitas. Ego adalah untuk membantu id mengadakan kontak dengan realitas. Sedangkan super ego merupakan nilai-nilai moral masyarakat yang ditanam di dalam diri individu. Super ego itu bersifat irrasional, semua yang dituntut harus dipenuhi secara sempurna.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa psikoanalisa memandang prilaku manusia banyak dipengaruhi masa lalu ketidaksadaran, dan dorongan-dorongan biologis, yang selalu menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi. Ringkasnya,  bahwa psikoanalisa memandang hakikat dasar manusia adalah buruk, liar, kejam, non etis, egois, sarat nafsu, dan bertuhan kepada kenikmatan jasmani. Dengan demikian tepatlah kiranya psikoanalisa dipandang dalam dimensi al-nafsu.

 

2.         Behaviorisme

Perilaku manusia sangat ditentukan oleh lingkungan dan bertujuan untuk menyesuaikan diri. Manusia tidak memiliki jiwa yang aktif dan produktif. Jiwanya pasif, ketika berhubungan dengan lingkungan. Manusia pada kenyataannya adalah makhluk fisik-biologis saja. Behaviorisme tergolong kepada aspek jismiah dan tidak memiliki aspek nafsiah dan ruhaniah.

 

1.         Psikologi Humanistik

Psikologi humanistik memusatkan perhatiannya untuk menelaah kualitas-kualitas insani, yakni sifat-sifat dan kemampuan abstraksi, daya analisis dan sintesis, imajinasi, kreativitas, kebebasan berkehendak, tanggung jawab, aktualisasi diri, makna hidup, perkembangan pribadi, sikap etis, rasa estetika, dan lain-lain[3]. Kualitas-kualitas ini merupakan ciri khas manusia, dan tidak dimiliki oleh makhluk lain semisal binatang. Psikologi humanistik memandang manusia sebagai pemilik otoritas atas dirinya sendiri.

Dapat disimpulkan bahwa psikologi humanistik dalam pandangan aspek-aspek manusia menurut Al-Quran berada dalam dua aspek manusia, yaitu aspek jismiah dan aspek nafsiah. Psikologi humanisti.

2.         Psikologi Transpersonal

Dalam encyclopedia of psychology dijelaskan bahwa : secara bahasa transpersonal berarti melampaui atau, melintasi kepribadian dan psikis seseorang[4]. Dengan begitu transpersonal psikologi adalah psikologi yang menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian yang ‘meta’ dan ‘super’, bukan kepribadian manusia pada umumnya.

                Berdasarkan definisi maka ada dua hal penting yang menjadi sasaran telaah psikologi transpersonal, yaitu potensi-potensi luhur batin manusia (human highest potentials) dan fenomena kasadaran manusia (human states of consciousness).
Psikologi transpersonal menaruh perhatian pada dimensi spiritual yang mengandung berbagai potensi luar biasa. Psikologi transpersonal menekankan pada pengalamnan subyektif spiritual-transendental.


[1]Al-Qur’an surat At-Tin:4.
[2]Ibid.
[3] Ibid, hal. 271-276. Lihat juga: J.P. Guilford. “Humanistic Psychology.” Dalam Raymon J. Corsini. (ed) Encyclopedia of Psychology. Second edition, volume 2, hal. 176-180.
[4] Hanna Djumhana Bastaman. Integrasi Psikilogi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami. Hal. 53-54.

1 comment:

  1. Sesuatu yang menarik untuk dibincangkan dan memberi kefahaman pikologi kepada mereka yang baru berjinak-jinak dalam bidang ini

    ReplyDelete

footer