1.
Aspek-aspek Manusia Berdasarkan Telaah
Ayat-ayat Al-Quran
Dari ayat-ayat Al-Quran tentang konsep manusia, dapat dirumuskan aspek
aspek dan dimensi-dimensi diri manusia. Dalam Webster’s New World College Dictionary dijelaskan bahw diantara
makna istilah aspek adalah sudut atau sisi pandang. Beberapa makna yaitu :
a.
Cara
seseorang terlihat, tampil, atau tampak,
b.
Penampilan
sesuatu seperti yang terlihat dari sudut pandangan tertentu;
c.
Salah
satu cara yang memungkinkan suatu ide, problem, dan lain-lain, dapat dipandang
atau dipertimbangkan semua aspeknya
d.
Sisi
yan terlihat secra langsung;
Makna ini berdekatan dengan dimensi. Dimensi lebih menekankan pada kadar
dan nilai dari sisi diri manusia. Sementara aspek lebih menekan pada sudut
pandang tampilan sisi jiwa manusia. Dengan kata lain, dimensi berada dalam
wilayah ‘hamparan’ aspek.
Diri manusia adalah satu keseluruhan yang utuh,
namun dalam tampilannya selalu menyondorkan sisi tertentu, seperti: jismiah
(fisik), nafsiah (psikis), dan ruhanniah (spiritual-transendental). Dalam
pandangan al-quran, manusia memiliki tiga aspek pembentuk totalitas manusia
yang secara tegas dapat dibedakan, namun secra pasti tidak dapat dipisahkan.
Ketiga aspek itu adalah (fisik, biologis), nafsiah (psikis, psikologis), dan
ruhanniah (spiritual-transendental).
a.
Aspek Jismiah
Aspek jismiah[1]
adalah organ fisik-biologis manusia dengan segala perangkat-perangkatnya. Organ
fisik biologis manusia adalah organ fisik yang paling sempurna diantara semua
makhluk. Manusia, hewan dn tumbuh-tumbuhan memiliki proses penciptaan yang
sama. Maka semua alam fisik material memiliki unsur material dasar yang sama,
yaitu tersusun dari unsur tanah, api, air, dan udara. Manusia juga terdiri dari
unsur demikian, namun manusia tersusun secara proporsional paling sempurna dari
keempat unsur tersebut. Keempat unsur tersebut adalah material dasar yang mati.
Aspek jismiah itu memiliki dua sifat dasar. Pertama, berupa tubuh kasar
yang tampak. Kedua, berupa nyawa halus yang menjadi sarana kehidupan tubuh.
Aspek pertama inilah yang mampu berinteraksi dengan aspek nafsiah dan ruhaniyah
manusia.
Dapat disimpulkan bahwa aspek jismiah ini
memiliki beberapa karakteristik, seperti: memiliki bentuk, rupa, kuantitas,
berkadar, bergerak, diam, tumbuh, kembang, serta berjasad yang terdiri dari
beberapa organ, dan bersifat material yang substansinya sebenarnya mati, dan
lain-lain.
b.
Aspek Nafsiah
Aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas khas kemanusiaan, berupa
pikiran, perasaan, kemauan, dan kebebasan. Aspek ini merupakan persentuhan
antara aspek jismiah dengan aspek ruhaniah. Aspek ini mewadahi kedua aspek yang
saling berbeda dan mungkin berlawanan.
Aspek jismiah dengan aspek utamanya yang bersifat empiris, konkret,
indrawi, mekanistik dan deterministik. Aspek ruhaniah bersifat spiritual,
transenden, suci, bebas tidak terikat pada hukum dan prinsip alam, dan
cenderung kepada kebaikan. Keduanya saling berbeda dan berlawanan, tetapi
keduanya juga saling membutuhkan. Sebab aspek jismiah akan hilang daya hidupnya
apabila tidak memiliki aspek ruhaniah, aspek ruhaniah juga tidak akan terwujud secara
konkret tanpa aspek jismiah. Disinilah aspek nafsiah berada, yaitu berada
diantara dua aspek yan berbeda itu dan berusaha mewadahi kedua kepentingan yang
berbeda. Aspek nafsiah itu memiliki tiga dimensi utama, yaitu al-nafsu,
al-‘aql, dan al-qalb. Ketiga sapek ini yang menjadi sarana bagi aspek nafsiah
ini untuk mewujudkan peran dan fungsinya.
1.
Dimensi al-nafsu
Dimensi yang memiliki sifat-sifat
kebinatangan dalam sistem psikis manusia. Namun dapat diarahkan setelah
mendapat pengaruh yang besar dari dimensi lain, seperti al-‘aql dan al-qalb,
al-ruh, dan al-fitrah. Dalam al-Quran al-nafsu adalah daya-daya psikis yang mempunyai kekuatan
ganda, yaitu daya al-gadabiyyah dan daya al-syahwaniyyah. Al-gadab adalah daya
yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala yang membahayakan dan
mencelakakan. sementara al-syahwaniyyah adalah daya yang berpotensi untuk
mengejar segla yang menyenangkan.
2.
Dimensi al-‘aql
Dimensi akal adalah penengah dimensi nafsu
dan qalb. Dimensi al-nafsu yang memiliki sifat kebinatangan, sementara al-qalb
yang memiliki sifat dasar kemanusiaan dan berdaya cita-rasa. Dalam kedudukannya
seperti itulah, akal menjadi perantara dan penghubung antara kedua dimensi
tersebut. Dimensi ini merupakn peranan penting berupa fungsi pikiran yang
merupakan kualitas insniyah pada psikis manusia.
3.
Dimensi al-qalb
Dimensi al-qalb memiliki peran yang sangat
penting dalam memberikan sifat insaniyah (kemanusiaan) bagi psikis manusia.
Dapat dipahami dari banyaknya istilah lain yang semakna dengan al-qalb yang
mengandung makn fungsi tersebut. Diantaranya adalah : (1) al-sadr, yaitu tempat
perasaan waswas; (2) al-qalb, yaitu tempat iman; (3) al-syagaf, yaitu tempat
cinta; (4) al-fu’ad, yang dapat memelihara kebenaran; (5) habat al-qalb, yaitu
tempat cinta dan kebenaran; (6) al-suwida, yaitu tempat ilmu dan agama; (7)
mahajah al-qalb, yang merupakan manifestasi sifat-sifat Allah; (8) al-damir,
yang merupakan tempat merasa dan daya rekoleksi (al-quwwah al-hafizah); dan (9)
al-sirr, sebgai bagian qalb yang paling halus dan rahasia. Jadi tepatlah
kiranya jika al-qalb menjadi penentu dalam kapasitas kebaikan dan keburukan
seseorang.
c.
Aspek Ruhaniah
Aspek ini adalah aspek psikis manusia yang bersifat spiritual dan
transcendental. Bersifat spiritual karena merupakan potensi luhur batin manusia
yang bersifat dasar dari dalam diri manusia yang berasal dari ruh ciptaan
Allah. Bersifat transendental karena yang mengatur hubungan manusia dengan yang
maha transenden, yaitu Allah. Aspek ruhaniah ini memiliki dua dimensi psikis,
yaitu dimensi al-ruh dan dimensi al-fitrah.
2.
Konsep Dasar Psikologi Barat dalam Perspektif
Aspek-aspek Manusia Menurut Al-Quran
Menurut pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran aspek-aspek manusia itu
ada tiga, yaitu : pertama aspek jismiah; kedua aspek nafsiah, dan ketiga aspek
ruhaniah. Jika konsep tersebut dijadikan dasar untuk menelaah konsep dasar
psikologi barat, maka dapat dijelaskan bahwa psikologi barat berada dalam dua
aspek jismiah dan aspek nafsiah. Sementara aspek ruhaniah tidak terjangkau
dalam psikologi barat secara ringkas.
1.
Psikologi Fisiologi
Psikologi ini membahas tingkah laku manusia berdasarkan kajian terhadap
sistem syaraf dan fungsi kelenjar manusia. Pusat sistem saraf tersebut adalah
diotak dan sumsum tulang belakang, maka semua tingkah laku manusia dapat
dipelajari melalui perubahan pada sistem saraf ini. Psikologi Fisiologi dapat
disebut dengan pendekatan neorobiologi. Pendekatan ini menitik beratkan
perhatian pada hubungan prilaku dengan hal-hal yang terjadi di dalam tubuh,
terutama dalam otak dan sistem syaraf. Menurut pendekatan ini, jelas ada
hubungan yang erat antara kegiatan otak, prilaku, dan pengalaman manusia.
Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa psikologi fisiologi membahas manusia dari
segi aspek fisik-biologisnya saja dan tidak menganalisis dari segi lainnya.
Psikoanalisa banyak mendasar konsepnya pada dimensi al-nafsu.
Psikoanalisa Sigmund Freud (1273-1356 H/ 1856-1939M), dipandang sebagai dasar
bagi psikoanalisa lainnya. Konsep dasar dari psikoanalisa itu tidak banyak
mengalami perubahan, masih tetap seperti semula.
Dalam pandangan Sigmund Freud
(1273-1356 H/ 1856-1939M) kepribadian manusia terdiri dari 3 sistem, yaitu id,
ego, super ego[2].
Id merupakan mencari pemuasan dalam realitas eksternal dan bekerja menurut
prinsip kenikmatan (nafsu), seperti makan, minum, istirahat atau rangsangan
agretifitas dan seksualitas. Ego adalah untuk membantu id mengadakan kontak
dengan realitas. Sedangkan super ego merupakan nilai-nilai moral masyarakat
yang ditanam di dalam diri individu. Super ego itu bersifat irrasional, semua
yang dituntut harus dipenuhi secara sempurna.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa psikoanalisa memandang prilaku
manusia banyak dipengaruhi masa lalu ketidaksadaran, dan dorongan-dorongan
biologis, yang selalu menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi.
Ringkasnya, bahwa psikoanalisa memandang
hakikat dasar manusia adalah buruk, liar, kejam, non etis, egois, sarat nafsu,
dan bertuhan kepada kenikmatan jasmani. Dengan demikian tepatlah kiranya
psikoanalisa dipandang dalam dimensi al-nafsu.
2.
Behaviorisme
Perilaku manusia sangat ditentukan oleh lingkungan dan bertujuan untuk
menyesuaikan diri. Manusia tidak memiliki jiwa yang aktif dan produktif.
Jiwanya pasif, ketika berhubungan dengan lingkungan. Manusia pada kenyataannya
adalah makhluk fisik-biologis saja. Behaviorisme tergolong kepada aspek jismiah
dan tidak memiliki aspek nafsiah dan ruhaniah.
1.
Psikologi Humanistik
Psikologi humanistik memusatkan perhatiannya untuk menelaah
kualitas-kualitas insani, yakni sifat-sifat dan kemampuan abstraksi, daya
analisis dan sintesis, imajinasi, kreativitas, kebebasan berkehendak, tanggung
jawab, aktualisasi diri, makna hidup, perkembangan pribadi, sikap etis, rasa
estetika, dan lain-lain[3].
Kualitas-kualitas ini merupakan ciri khas manusia, dan tidak dimiliki oleh
makhluk lain semisal binatang. Psikologi humanistik memandang manusia sebagai
pemilik otoritas atas dirinya sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa psikologi humanistik dalam pandangan aspek-aspek
manusia menurut Al-Quran berada dalam dua aspek manusia, yaitu aspek jismiah
dan aspek nafsiah. Psikologi humanisti.
2.
Psikologi Transpersonal
Dalam encyclopedia of psychology
dijelaskan bahwa : secara bahasa transpersonal berarti melampaui atau, melintasi
kepribadian dan psikis seseorang[4].
Dengan begitu transpersonal psikologi adalah psikologi yang menjelaskan hal-hal
yang berhubungan dengan kepribadian yang ‘meta’ dan ‘super’, bukan kepribadian
manusia pada umumnya.
Berdasarkan definisi maka ada
dua hal penting yang menjadi sasaran telaah psikologi transpersonal, yaitu
potensi-potensi luhur batin manusia (human
highest potentials) dan fenomena kasadaran manusia (human states of consciousness).
Psikologi
transpersonal menaruh perhatian pada dimensi spiritual yang mengandung berbagai
potensi luar biasa. Psikologi transpersonal menekankan pada pengalamnan
subyektif spiritual-transendental.
[1]Al-Qur’an
surat At-Tin:4.
[2]Ibid.
[3]
Ibid, hal. 271-276. Lihat juga: J.P. Guilford. “Humanistic Psychology.” Dalam Raymon
J. Corsini. (ed) Encyclopedia of Psychology.
Second edition, volume 2, hal. 176-180.
[4]
Hanna Djumhana Bastaman. Integrasi Psikilogi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami. Hal.
53-54.
Sesuatu yang menarik untuk dibincangkan dan memberi kefahaman pikologi kepada mereka yang baru berjinak-jinak dalam bidang ini
ReplyDelete