Sunday, April 21, 2013

kesehatan mental wanita 4


Psikologi Perkembangan Remaja Pada Wanita
Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula orang dewasa. Pada periode ini pula remaja berubah secara kognitif dan mulai mampu berfikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa (Clarke-Sweart & Friedman, 1987; Ingersoll, 1989).
Selain perubahan yang terjadi dalam diri remaja, terdapat pula perubahan dalam lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru, teman sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Kondisi ini merupakan reaksi terhadap pertumbuhan remaja. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya. Adanya perubahan baik di dalam maupun di luar dirinya itu membuat kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut memperluas lingkungan sosial diluar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lainnya.
Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:(Konopka, 1973 dalam Pikunas, 1976; Ingersoll 1989):
Masa remaja awal (12-15 tahun).Pada masa ini individu memulai meninggalkan peran sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun). Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir yang baru. Masa remaja akhir (19-22 tahun). Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa.
Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam renteang kehidupan manusia yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Keunikan tersebut bersumber dari kedudukan masa remaja sebagai periode transisional antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Kita semua mengetahui bahwa antara anak-anak dan orang dewasa ada beberapa perbedaan yang selain bersifat bilogis atau fisiologis juga bersifat psikologis. Pada masa remaja perubahan-perubahan besar terjadi dalam kedua aspek tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa ciri umum yang menonjol pada masa remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam interaksinya dengan lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada prilaku remaja. Secara ringkas, proses perubahan tersebut dan interaksi antara beberapa aspek yang berubah selama masa remaja bisa diuraikan sebagai berikut. (Lerner & Hultsch, 1983; 318-320).
Perubahan fisik yaitu rangkaian perubahan yang paling jelas yang nampak dialami oleh remaja adalah perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada awal masa remaja, yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria (hurlock, 1973: 20-21).
Perubahan emosionalitas yaitu akibat langsung dari perubahan fisik dan hormonal adalah perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja sebagai akibat dari perubahan fisik dan hormonal tadi dan juga pengaruh lingkungan yang terkait dengan perubahan badaniah tersebut.
Perubahan kognitif yaitu semua perubahan fisik yang membawa implikasi perubahan emosional tersebut makin dirumitkan oleh fakta bahwa individu juga sedang mengalami perubahan kognitif. Perubahan dalam kemampuan berfikir ini diungkapkan oleh Piaget (1972) sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai tahap formal operation dalam perkembangan kognitifnya.
Implikasi Psikososial yaitu semua perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat itu membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya sendiri. Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya telah mengalami perubahan, dan komponen-komponen fisik, fisiologis, emosional, dan kognitif sedang mengalami perubahan besar.
Menurut John Hill (1983), terdapat tiga komponen dasar dalam membahas periode remaja yaitu: Perubahan pundamental remaja meliputi perubahan biologis kognitif dan sosial. Ketiga perubahan ini bersifat universal. Perubahan biologis menyangkut tampilan fisik (ciri-ciri secara primer dan sekunder).
Transisi Kognitif yaitu perubahan dalam kemampuan berfikir, remaja telah memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak dalam berfikir mengenai situasi secara hipotesis, memikirkan sesuatu yang belum terjadi tetapi akan terjadi.
Transisi Sosial yaitu perubahan dalam status sosial membuat remaja mendapatkan peran-peran baru dan terikat pada kegiatan-kegiatan baru.
Konteks dari remaja yaitu perubahan yang fundamental remaja bersifat universal, namun akibatnya pada individu sangat bervariasi (Bronfenbrenner, 1979). Hal ini terjadi karena dampak psikologis dari perubahan yang terjadi pada diri remaja dibentuk dari lingkungan.
Perkembangan Psikososial, terdapat 5 kasus dari psikososial yaitu:
ü  Identity yaitu mengemukakan dan mengerti dari sebagai individu.
Pada masa remaja terjadi perubahan yang sangat penting pada identitas diri (Harter, 1990). Pada masa remaja sangsi akan identitas dirinya dan tidak hanya sangsi akan personal sense dirinya tapi juga untuk pengakuan dari orang lain dan dari lingkungan bahwa dirinya merupakan indiviodu yang unik dan khusus.
ü  Autonomy yaitu menetapkan rasa yang nyaman dalam ketidaktergantungan.
Remaja berusaha membentuk dirinya menjadi tidak tergantung tetapi berusaha untuk menemukan dirinya dengan kaca mata dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini merupakan suatu proses yang sulit, tidak hanya bagi remaja tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya.
ü  Intimacy yaitu membentuk relasi yang tertutup dan dekat dengan orang lain.
Selama masa remaja perubahan penting lainnya adalah kemampuan individu untuk menjalin kedekatan dengan orang lain, khususnya dengan sebaya. Pertemuan muncul pertama kali pada masa remaja melibatkan keterbukaan, kejujuran, loyaliyas dan saling percaya, juda berbagi kegiatan dan minat (Sarin Williams and Bernet, 1990). “dating”, menjadi penting dan sebagai konsekuensinya kemampuan untuk menjalin hubungan melalui kepercayaan dan cinta.
ü  Sexuality yaitu mengekspresikan perasaan-perasaan dan merasa senang jika ada kontak fisik dengan orang lain. Kegiatan seksual secara umum dimulai pada masa remaja, kebutuhan untuk memecahkan masalah nilai-nilai sosial dan moral terjadi pada masa ini (Kart Chadorin, 1990).
Achivement yaitu mendapatkan keberhasilan dan memiliki kemampuan sebagai anggota masyarakat. Pengembalian keputusan yang penting terjadi pada masa remaja dan membawa konsueksi yang panjang tentang sekolah dn karir (Henderson and Dweck, 1990).
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Wanita
Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingkat kesehatan mental wanita yakni sebagai berikut:
A. Biologis
Para ahli telah banyak melakukan studi tentang hubungan antara dimensi biologis dengan kesehatan mental. Berbagai penelitian itu telah memberikan kesimpulan yang meyakinkan bahwa faktor biologis memberikan kontribusi sangat besar bagi kesehatan mental. Karena itu, kesehatan manusia, khususnya disini adalah kesehatan mental, tentunya tidak terlepaskan dari dimensi biologs ini. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang hubungan tersebut, khususnyabeberapa aspek biologis yang secara langsung berpengaruh terhadap kesehatan mental, diantaranya: otak, sistem endokrin, genetik, sensori, kondisi ibu selamakehamilain.
1.Otak
Otak sangat kompleks secara fisiologis, tetepi memiliki fungsi yang sangat esensi bagi keseluruhan aktivitas manusia. Diferensiasi dankeunikan yang ada pada manusia pada dasarnya tidak dapat dilepaskandari otak manusia. Keunikan manusia terjadi justru karena keunikan otak manusia dalam mengekspresikan seluruh pengalaman hidupnya. Jikadidipadukan dengan pandangan-pandangan psikologi, jelas adanyakesesuaian antara perkembangan fisiologis otak dengan perkembangan mental. Funsi otak seperti motorik, intelektual, emosional dan afeksiberhubungan dengan mentalitas manusia.
2.Sistem endokrin
Sistem endokrin terdiri dari sekumpulan kelenjar yang seringbekerja sama dengan sistem syaraf otonom. Sistem ini sama-samamemberikan fungsi yang penting yaitu berhubungan dengan berbagaibagian-bagian tubuh. Tetapi keduanya memiliki perbedaan diantaranyasistem syaraf menggunakan pesan kimia dan elektrik sedangkan sistemendokrin berhubungan dengan bahan kimia, yang disebut dengan hormon.Tiap kelenjar endokrin mengeluarkan hormon tertentu secaralangsung ke dalam aliran darah, yang membawa bahan-bahan kimia ini keseluruh bagian tubuh. Sistem endokrin berhubungan dengan kesehatanmental seseorang. Gangguan mental akibat sistem endokrin berdampak buruk pada mentalitas manusia. Sebagai contoh terganggunya kelenjaradrenalin berpengaruh terhadap kesehatan mental, yakni terganggunya“mood” dan perasannya dan tidak dapat melakukan
Coping stress.
3. Genetik
Faktor genetik diakui memiliki pengaruh yang besar terhadapmentalitas manusia. Kecenderungan psikosis yaitu schizophrenia danmanis-depresif merupakan sakit mental yang diwariskan secara genetisdari orangtuanya. Gangguan lainnya yang diperkirakan sebagai faktorgenetik adalah ketergantungan alkohol, obat-obatan, Alzeimer syndrome,phenylketunurine, dan huntington syndrome. Gangguan mental juga terjadi karena tidak normal dalam hal jumlah dan struktur kromosom. Jumlahkromosom yang berlebihan atau berkurang dapat menyebabkan individumengalami gangguan mental.
4. Sensori
Sensori merupakan aspek penting dari manusia. Sensori merupakanalat yang menagkap segenap stimuli dari luar. Sensori termasuk:pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecapan dan penciuman.Terganggunya fungsi sensori individu menyebabkan terganggunya fungsikognisi dan emosi individu. Seseorang yang mengalami gangguanpendenganran misalnya, maka akan berpengaruh terhadap perkembanganemosi sehingga cenderung menjadi orang yang paranoid, yakniterganggunya afeksi yang ditandai dengan kecurigaan yang berlebihankepada orang lain yang sebenarnya kecurigaan itu adalah salah.
5. Faktor ibu selama masa kehamilan
Faktor ibu selama masa kehamilan secara bermakna mempengaruhikesehatan mental anak. Selama berada dalam kandungan, kesehatan janinditentukan oleh kondisi ibu. Faktor-faktor ibu yang turut mempengaruhikesehatan mental anaknya adalah: usia, nutrisi, obat-obatan, radiasi,penyakit yang diderita, stress dan komplikasi.


B. Psikologis
Notosoedirjo dan latipun (2005), mengatakan bahwa aspek psikis manusiamerupakan satu kesatuan dengan dengan sistem biologis. Sebagai subsistem darieksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan dari aspek yang lain dalam kehidupan manusia.
1. Pengalaman Awal
Pengalaman awal merupakan segenap pengalaman-pengalamanyang terjadi pada individu terutama yang terjadi pada masa lalunya.Pengalaman awal ini dipandang sebagai bagian penting bahkan sangatmenentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.
2. Proses Pembelajaran
Perilaku manusia adalah sebagian besar adalah proses belajar, yaituhasil pelatihan dan pengalaman. Manusia belajar secara langsung sejak pada masa bayi terhadap lingkungannya. Karena itu faktor lingkungansangat menentukan mentalitas individu.
3. Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan mentalseseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi yaitu orangyang mengeksploitasi dan mewujudkan segenap kemampuan, bakat,keterampilannya sepenuhnya, akan mencapai pada tingkatan apa yangdisebut dengan tingkat pengalaman puncak (peack experience). Maslowmengatakan bahwa ketidakmampuan dalam mengenali dan memenuhikebutuhan-kebutuhannya adalah sebagai dasar dari gangguan mentalindividu. Keluarga yang lengkap dan fungsional serta mampumembentuk homeostatis akan dapat meningkatkan kesehatan mentalpara anggota keluaganya, dan kemungkinan dapat meningkatkanketahanan para anggota keluarganya dari gangguan-gangguan mentaldan ketidakstabilan emosional para anggotanya.
4. Perubahan sosial
Sehubungan dengan perubahan sosial ini, terdapat duakemungkinan yang dapat terjadi yaitu, perubahan sosial dapatmenimbulkan kepuasan bagi masyarakat karena sesuai dengan yangdiharapkan dan dapat meningkatkan keutuhan masyarakat dan hal inisekaligus meningkatkan kesehatan mental mereka. Namun, di sisi laindapat pula berakibat pada masyarakat mengalami kegagalan dalampenyesuaian terhadap perubahan itu, akibatnya merekamemanifestasikan kegagalan penyesuaian itu dalam bentuk yangpatologis, misalnya tidak terpenuhinya tuntutan politik, suatukelompok masyarakat melakukan tindakan pengrusakan danpenjarahan.

5.Sosial budaya
Sosial budaya memiliki makna yang sangat luas. Namun dalamkonteks ini budaya lebih dikhususkan pada aspek nilai, norma, danreligiusitas dan segenap aspeknya. Dalam konteks ini, kebudayaanyang ada di masyarakat selalu mengatur bagaimana orang seharusnya sesuatu, termasuk didalamnya bagaimana seseorang berperan sakit ,kalsifikasi kesakitan. serta adanya sejumlah kesakitan yang sangat spesifik ada pada budaya tertentu, termasuk pula adanya gangguan mentalnya.Kebudayaan pada prinsipnya memberikan aturan terhadap anggota masyarakatnya untuk bertindak yang seharusnya dilakukandan meninggalkan tindakan tertentu yang menurut budaya itu tidak seharunya dilakukan. Tindakan yang bertentangan dengan sistem nilaiatau budayanya akan dipandang sebagi penyimpangan, dan bahkan dapat menimbulkan gangguan mental. Hubungan kebudayaan dankesehatan mental meliputi tiga hal yaitu: (1) kebudayaan mendukungdan menghambat kesehatan mental, (2) kebudayaan memberi perantertentu terhadap penderita gangguan mental, (3) berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, (4) upaya peningkatan danpencegahan gangguan mental dalam telaah budaya.
6. Stessor 
Psikososial lainnyaSituasi dan kondisi peran sosial sehari-hari dapat menjadisebagai masalah atau sesuatu yang tidak dikehendaki, dan karena itudapat berfungsi sebagai stressor 
sosial kontribusi ini terhadapkesehatan mental bisa kuat atau lemah. Stressor psikososial secaraumum dapat menimbulkan efek negatif bagi individu yangmengalaminya. Manum demikian tentang variasi stressor  psikososial ini berbeda untuk setiap masyarakat, bergantung kepada kondisi sosialmasyarakatnya.

C. Lingkungan
Interaksi manusia dengan lingkungannya berhubungan dengan kesehatannya. Kondisi lingkungan yang sehat akan mendukung kesehatanmanusia itu sendiri, dan sebaliknya kondisi lingkungan yang tidak sehat dapat mengganggu kesehatannya termasuk dalam konteks kesehatan mentalnya.

4. Contoh Kasus Kesehatan Mental Wanita
Lesbian
Pada masa sekarang, kehidupan lesbianisme tidak disembunyikan. Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria.
Pada proses perkembangan remaja yang normal, biseksualitas dapat berkembang menjadi heteroseksual (menyukai lawan jenis). Sebaliknya jika prosesnya abnormal, misalnya disebabkan oleh faktor endogin atau eksogin tertentu, maka biseksualitas bisa berkembang menjadi lesbian, dan obyek-erotisnya adalah benar-benar seorang wanita. Pada umumnya, cinta seorang lesbianisme itu sangat mendalam dan lebih hebat dari pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian, tidak didapatkan kepuasan seksual yang wajar. Cinta lesbian juga biasanya lebih hebat daripada cinta homoseksual diantar kaum pria.
Gejala Lesbianisme antara lain disebabkan karena wanita yang bersangkutan mudah jenuh terhadap relasi heteroseksualnya, misalnya suami atau kekasih prianya. Seorang yang lesbian tidak pernah merasakan orgasme. Penyebab yang lain adalah pengalaman traumatis terhadap seorang pria atau suami yang kejam, sehingga timbul rasa benci yang mendalam dan antipati terhadap setiap laki-laki. Kemudian ia lebih suka melakukan relasi seks dan hidup bercinta dengan seseorang wanita lain. Wanita lesbian menganggap relasi heteroseksual tidak bisa membuat dirinya bahagia, relasi seksnya dengan sesama wanita dianggap sebagai kompensasi dari rasa ketidakbahagiaannya tersebut.

No comments:

Post a Comment

footer