Psikologi Perkembangan Remaja Pada Wanita
Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju
masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik
maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh
berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula
orang dewasa. Pada periode ini pula remaja berubah secara kognitif dan mulai
mampu berfikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai
melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran
sosialnya yang baru sebagai orang dewasa (Clarke-Sweart & Friedman, 1987;
Ingersoll, 1989).
Selain perubahan yang terjadi dalam diri remaja, terdapat pula perubahan
dalam lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru,
teman sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Kondisi ini merupakan reaksi
terhadap pertumbuhan remaja. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah
laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya. Adanya
perubahan baik di dalam maupun di luar dirinya itu membuat kebutuhan remaja
semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan remaja semakin
meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut memperluas lingkungan sosial diluar lingkungan keluarga,
seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lainnya.
Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:(Konopka, 1973 dalam Pikunas, 1976; Ingersoll 1989):
Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:(Konopka, 1973 dalam Pikunas, 1976; Ingersoll 1989):
Masa remaja awal (12-15 tahun).Pada masa ini individu memulai meninggalkan
peran sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua. Masa
remaja pertengahan (15-18 tahun). Masa ini ditandai dengan berkembangnya
kemampuan berfikir yang baru. Masa remaja akhir (19-22 tahun). Masa ini
ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa.
Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam renteang kehidupan
manusia yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Keunikan tersebut bersumber
dari kedudukan masa remaja sebagai periode transisional antara masa kanak-kanak
dan masa dewasa. Kita semua mengetahui bahwa antara anak-anak dan orang dewasa
ada beberapa perbedaan yang selain bersifat bilogis atau fisiologis juga
bersifat psikologis. Pada masa remaja perubahan-perubahan besar terjadi dalam
kedua aspek tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa ciri umum yang menonjol
pada masa remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam
interaksinya dengan lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada prilaku
remaja. Secara ringkas, proses perubahan tersebut dan interaksi antara beberapa
aspek yang berubah selama masa remaja bisa diuraikan sebagai berikut. (Lerner
& Hultsch, 1983; 318-320).
Perubahan fisik yaitu rangkaian perubahan yang paling jelas yang nampak
dialami oleh remaja adalah perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung
pada masa pubertas atau pada awal masa remaja, yaitu sekitar umur 11-15 tahun
pada wanita dan 12-16 tahun pada pria (hurlock, 1973: 20-21).
Perubahan emosionalitas yaitu akibat langsung dari perubahan fisik dan
hormonal adalah perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja sebagai akibat
dari perubahan fisik dan hormonal tadi dan juga pengaruh lingkungan yang
terkait dengan perubahan badaniah tersebut.
Perubahan kognitif yaitu semua perubahan fisik yang membawa implikasi perubahan emosional tersebut makin dirumitkan oleh fakta bahwa individu juga sedang mengalami perubahan kognitif. Perubahan dalam kemampuan berfikir ini diungkapkan oleh Piaget (1972) sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai tahap formal operation dalam perkembangan kognitifnya.
Perubahan kognitif yaitu semua perubahan fisik yang membawa implikasi perubahan emosional tersebut makin dirumitkan oleh fakta bahwa individu juga sedang mengalami perubahan kognitif. Perubahan dalam kemampuan berfikir ini diungkapkan oleh Piaget (1972) sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai tahap formal operation dalam perkembangan kognitifnya.
Implikasi Psikososial yaitu semua perubahan yang terjadi dalam waktu yang
singkat itu membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah
dirinya sendiri. Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya
telah mengalami perubahan, dan komponen-komponen fisik, fisiologis, emosional,
dan kognitif sedang mengalami perubahan besar.
Menurut John Hill (1983), terdapat tiga komponen dasar dalam membahas
periode remaja yaitu: Perubahan pundamental remaja meliputi perubahan biologis
kognitif dan sosial. Ketiga perubahan ini bersifat universal. Perubahan
biologis menyangkut tampilan fisik (ciri-ciri secara primer dan sekunder).
Transisi Kognitif yaitu perubahan dalam kemampuan berfikir, remaja telah
memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak dalam berfikir mengenai situasi
secara hipotesis, memikirkan sesuatu yang belum terjadi tetapi akan terjadi.
Transisi Sosial yaitu perubahan dalam status sosial membuat remaja mendapatkan peran-peran baru dan terikat pada kegiatan-kegiatan baru.
Transisi Sosial yaitu perubahan dalam status sosial membuat remaja mendapatkan peran-peran baru dan terikat pada kegiatan-kegiatan baru.
Konteks dari remaja yaitu perubahan yang fundamental remaja bersifat
universal, namun akibatnya pada individu sangat bervariasi (Bronfenbrenner,
1979). Hal ini terjadi karena dampak psikologis dari perubahan yang terjadi
pada diri remaja dibentuk dari lingkungan.
Perkembangan Psikososial, terdapat 5 kasus dari psikososial yaitu:
Perkembangan Psikososial, terdapat 5 kasus dari psikososial yaitu:
ü
Identity yaitu mengemukakan dan mengerti dari sebagai individu.
Pada masa remaja terjadi perubahan yang sangat penting pada identitas diri (Harter, 1990). Pada masa remaja sangsi akan identitas dirinya dan tidak hanya sangsi akan personal sense dirinya tapi juga untuk pengakuan dari orang lain dan dari lingkungan bahwa dirinya merupakan indiviodu yang unik dan khusus.
Pada masa remaja terjadi perubahan yang sangat penting pada identitas diri (Harter, 1990). Pada masa remaja sangsi akan identitas dirinya dan tidak hanya sangsi akan personal sense dirinya tapi juga untuk pengakuan dari orang lain dan dari lingkungan bahwa dirinya merupakan indiviodu yang unik dan khusus.
ü
Autonomy yaitu menetapkan rasa yang nyaman dalam ketidaktergantungan.
Remaja berusaha membentuk dirinya menjadi tidak tergantung tetapi berusaha untuk menemukan dirinya dengan kaca mata dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini merupakan suatu proses yang sulit, tidak hanya bagi remaja tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya.
Remaja berusaha membentuk dirinya menjadi tidak tergantung tetapi berusaha untuk menemukan dirinya dengan kaca mata dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini merupakan suatu proses yang sulit, tidak hanya bagi remaja tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya.
ü
Intimacy yaitu membentuk relasi yang tertutup dan dekat dengan orang lain.
Selama masa remaja perubahan penting lainnya adalah kemampuan individu untuk menjalin kedekatan dengan orang lain, khususnya dengan sebaya. Pertemuan muncul pertama kali pada masa remaja melibatkan keterbukaan, kejujuran, loyaliyas dan saling percaya, juda berbagi kegiatan dan minat (Sarin Williams and Bernet, 1990). “dating”, menjadi penting dan sebagai konsekuensinya kemampuan untuk menjalin hubungan melalui kepercayaan dan cinta.
Selama masa remaja perubahan penting lainnya adalah kemampuan individu untuk menjalin kedekatan dengan orang lain, khususnya dengan sebaya. Pertemuan muncul pertama kali pada masa remaja melibatkan keterbukaan, kejujuran, loyaliyas dan saling percaya, juda berbagi kegiatan dan minat (Sarin Williams and Bernet, 1990). “dating”, menjadi penting dan sebagai konsekuensinya kemampuan untuk menjalin hubungan melalui kepercayaan dan cinta.
ü
Sexuality yaitu mengekspresikan perasaan-perasaan dan merasa senang jika
ada kontak fisik dengan orang lain. Kegiatan seksual secara umum dimulai pada
masa remaja, kebutuhan untuk memecahkan masalah nilai-nilai sosial dan moral
terjadi pada masa ini (Kart Chadorin, 1990).
Achivement yaitu
mendapatkan keberhasilan dan memiliki kemampuan sebagai anggota masyarakat.
Pengembalian keputusan yang penting terjadi pada masa remaja dan membawa
konsueksi yang panjang tentang sekolah dn karir (Henderson and Dweck, 1990).
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kesehatan Mental Wanita
Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap
tingkat kesehatan mental wanita yakni
sebagai berikut:
A. Biologis
Para ahli telah banyak melakukan studi tentang
hubungan antara dimensi biologis dengan kesehatan mental. Berbagai penelitian
itu telah memberikan kesimpulan yang meyakinkan bahwa faktor biologis
memberikan kontribusi sangat besar bagi kesehatan mental. Karena itu, kesehatan
manusia, khususnya disini adalah kesehatan mental, tentunya tidak terlepaskan
dari dimensi biologs ini. Pada
bagian ini akan dijelaskan tentang hubungan tersebut, khususnyabeberapa aspek biologis yang secara langsung
berpengaruh terhadap kesehatan mental, diantaranya: otak, sistem
endokrin, genetik, sensori, kondisi ibu selamakehamilain.
1.Otak
Otak sangat kompleks secara fisiologis, tetepi
memiliki fungsi yang sangat esensi bagi keseluruhan aktivitas manusia.
Diferensiasi dankeunikan yang ada pada manusia pada dasarnya tidak dapat
dilepaskandari otak manusia. Keunikan manusia terjadi justru karena keunikan
otak manusia dalam mengekspresikan seluruh pengalaman hidupnya.
Jikadidipadukan dengan pandangan-pandangan psikologi, jelas adanyakesesuaian
antara perkembangan fisiologis otak dengan perkembangan mental. Funsi otak
seperti motorik, intelektual, emosional dan afeksiberhubungan dengan mentalitas manusia.
2.Sistem endokrin
Sistem endokrin terdiri dari sekumpulan kelenjar yang
seringbekerja sama dengan sistem syaraf otonom. Sistem ini sama-samamemberikan
fungsi yang penting yaitu berhubungan dengan berbagaibagian-bagian tubuh.
Tetapi keduanya memiliki perbedaan diantaranyasistem syaraf menggunakan pesan
kimia dan elektrik sedangkan sistemendokrin
berhubungan dengan bahan kimia, yang disebut dengan hormon.Tiap kelenjar
endokrin mengeluarkan hormon tertentu secaralangsung ke dalam aliran darah,
yang membawa bahan-bahan kimia ini keseluruh bagian tubuh. Sistem endokrin
berhubungan dengan kesehatanmental seseorang. Gangguan mental akibat sistem
endokrin berdampak buruk pada mentalitas manusia. Sebagai contoh
terganggunya kelenjaradrenalin berpengaruh terhadap kesehatan mental, yakni
terganggunya“mood” dan perasannya dan tidak
dapat melakukan
Coping stress.
3. Genetik
Faktor genetik diakui memiliki pengaruh yang besar
terhadapmentalitas manusia. Kecenderungan psikosis yaitu schizophrenia
danmanis-depresif merupakan sakit mental yang diwariskan secara genetisdari
orangtuanya. Gangguan lainnya yang diperkirakan sebagai faktorgenetik adalah
ketergantungan alkohol, obat-obatan, Alzeimer
syndrome,phenylketunurine, dan huntington
syndrome. Gangguan mental juga terjadi karena tidak normal dalam hal
jumlah dan struktur kromosom. Jumlahkromosom yang berlebihan atau berkurang
dapat menyebabkan individumengalami
gangguan mental.
4. Sensori
Sensori merupakan aspek penting
dari manusia. Sensori merupakanalat yang menagkap segenap stimuli dari luar. Sensori
termasuk:pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecapan dan penciuman.Terganggunya fungsi sensori individu menyebabkan
terganggunya fungsikognisi dan emosi individu. Seseorang yang mengalami
gangguanpendenganran misalnya, maka akan
berpengaruh terhadap perkembanganemosi sehingga cenderung menjadi orang yang
paranoid, yakniterganggunya afeksi yang ditandai dengan kecurigaan yang
berlebihankepada orang lain yang sebenarnya
kecurigaan itu adalah salah.
5. Faktor ibu selama masa kehamilan
Faktor ibu selama masa kehamilan secara bermakna
mempengaruhikesehatan mental anak. Selama berada dalam kandungan, kesehatan
janinditentukan oleh kondisi ibu. Faktor-faktor ibu yang turut
mempengaruhikesehatan mental anaknya adalah: usia, nutrisi, obat-obatan,
radiasi,penyakit yang diderita, stress dan komplikasi.
B. Psikologis
Notosoedirjo dan latipun (2005), mengatakan bahwa
aspek psikis manusiamerupakan satu kesatuan dengan dengan sistem biologis.
Sebagai subsistem darieksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi
dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat
dipisahkan dari aspek yang lain dalam
kehidupan manusia.
1. Pengalaman Awal
Pengalaman awal merupakan segenap
pengalaman-pengalamanyang terjadi pada individu terutama yang terjadi pada masa
lalunya.Pengalaman awal ini dipandang
sebagai bagian penting bahkan sangatmenentukan bagi kondisi mental individu di
kemudian hari.
2. Proses Pembelajaran
Perilaku manusia adalah sebagian
besar adalah proses belajar, yaituhasil pelatihan dan pengalaman.
Manusia belajar secara langsung sejak pada masa bayi terhadap
lingkungannya. Karena itu faktor lingkungansangat
menentukan mentalitas individu.
3. Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan
mentalseseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi yaitu
orangyang mengeksploitasi dan mewujudkan segenap kemampuan, bakat,keterampilannya sepenuhnya, akan mencapai pada
tingkatan apa yangdisebut dengan tingkat pengalaman puncak (peack experience). Maslowmengatakan bahwa ketidakmampuan dalam mengenali
dan memenuhikebutuhan-kebutuhannya adalah sebagai dasar dari gangguan
mentalindividu. Keluarga yang lengkap dan
fungsional serta mampumembentuk homeostatis akan dapat meningkatkan
kesehatan mentalpara anggota keluaganya, dan kemungkinan dapat
meningkatkanketahanan para anggota keluarganya dari gangguan-gangguan mentaldan
ketidakstabilan emosional para anggotanya.
4. Perubahan
sosial
Sehubungan dengan perubahan sosial ini, terdapat
duakemungkinan yang dapat terjadi yaitu, perubahan sosial dapatmenimbulkan
kepuasan bagi masyarakat karena sesuai dengan yangdiharapkan dan dapat
meningkatkan keutuhan masyarakat dan hal inisekaligus meningkatkan kesehatan
mental mereka. Namun, di sisi laindapat pula berakibat pada masyarakat
mengalami kegagalan dalampenyesuaian terhadap perubahan itu, akibatnya
merekamemanifestasikan kegagalan penyesuaian itu dalam bentuk yangpatologis,
misalnya tidak terpenuhinya tuntutan politik, suatukelompok masyarakat
melakukan tindakan pengrusakan danpenjarahan.
5.Sosial budaya
Sosial budaya memiliki makna
yang sangat luas. Namun dalamkonteks ini budaya lebih dikhususkan pada aspek
nilai, norma, danreligiusitas dan segenap aspeknya. Dalam konteks ini,
kebudayaanyang ada di masyarakat selalu mengatur bagaimana orang seharusnya
sesuatu, termasuk didalamnya bagaimana seseorang berperan sakit ,kalsifikasi
kesakitan. serta adanya sejumlah kesakitan yang sangat spesifik ada pada
budaya tertentu, termasuk pula adanya gangguan
mentalnya.Kebudayaan pada prinsipnya memberikan aturan terhadap anggota
masyarakatnya untuk bertindak yang seharusnya dilakukandan meninggalkan
tindakan tertentu yang menurut budaya itu tidak seharunya dilakukan.
Tindakan yang bertentangan dengan sistem nilaiatau
budayanya akan dipandang sebagi penyimpangan, dan bahkan dapat menimbulkan
gangguan mental. Hubungan kebudayaan dankesehatan mental meliputi tiga
hal yaitu: (1) kebudayaan mendukungdan menghambat kesehatan mental, (2)
kebudayaan memberi perantertentu terhadap penderita gangguan mental, (3)
berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, (4) upaya
peningkatan danpencegahan gangguan mental
dalam telaah budaya.
6. Stessor
Psikososial lainnyaSituasi dan
kondisi peran sosial sehari-hari dapat menjadisebagai masalah atau sesuatu yang
tidak dikehendaki, dan karena itudapat berfungsi sebagai stressor
sosial kontribusi ini terhadapkesehatan mental bisa
kuat atau lemah. Stressor psikososial secaraumum dapat menimbulkan efek negatif bagi individu yangmengalaminya.
Manum demikian tentang variasi stressor
psikososial ini berbeda untuk setiap masyarakat, bergantung kepada kondisi
sosialmasyarakatnya.
C. Lingkungan
Interaksi manusia dengan lingkungannya berhubungan
dengan kesehatannya. Kondisi lingkungan
yang sehat akan mendukung kesehatanmanusia itu sendiri, dan sebaliknya
kondisi lingkungan yang tidak sehat dapat mengganggu
kesehatannya termasuk dalam konteks kesehatan mentalnya.
4. Contoh Kasus Kesehatan Mental Wanita
Lesbian
Pada
masa sekarang, kehidupan lesbianisme tidak disembunyikan. Lesbianisme tergolong
dalam abnormalitas seksual yang disebabkan adanya partner-seks yang abnormal.
Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah
pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita
(dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut dengan cinta
yang lesbis atau lesbianisme. Pada usia pubertas, dalam diri individu muncul
predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu mencintai seorang
teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria.
Pada
proses perkembangan remaja yang normal, biseksualitas dapat berkembang menjadi
heteroseksual (menyukai lawan jenis). Sebaliknya jika prosesnya abnormal,
misalnya disebabkan oleh faktor endogin atau eksogin tertentu, maka
biseksualitas bisa berkembang menjadi lesbian, dan obyek-erotisnya adalah benar-benar
seorang wanita. Pada umumnya, cinta seorang lesbianisme itu sangat mendalam dan
lebih hebat dari pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian, tidak
didapatkan kepuasan seksual yang wajar. Cinta lesbian juga biasanya lebih hebat
daripada cinta homoseksual diantar kaum pria.
Gejala
Lesbianisme antara lain disebabkan karena wanita yang bersangkutan mudah jenuh
terhadap relasi heteroseksualnya, misalnya suami atau kekasih prianya. Seorang
yang lesbian tidak pernah merasakan orgasme. Penyebab yang lain adalah
pengalaman traumatis terhadap seorang pria atau suami yang kejam, sehingga
timbul rasa benci yang mendalam dan antipati terhadap setiap laki-laki.
Kemudian ia lebih suka melakukan relasi seks dan hidup bercinta dengan
seseorang wanita lain. Wanita lesbian menganggap relasi heteroseksual tidak
bisa membuat dirinya bahagia, relasi seksnya dengan sesama wanita dianggap
sebagai kompensasi dari rasa ketidakbahagiaannya tersebut.